27 Maret 2019

Endō di Barat, Endō di Antara, Endō di Timur

Ditulis oleh Rifqaiza Pravangesta

Endō Shūsaku

Tulisan ini dibuat untuk merayakan ulang tahun Endō Shūsaku yang ke-96 pada hari ini.

Aku masih berada di ruang kelas ketika mendapat kabar bahwa permintaanku untuk bertemu dengan Endō Shūsaku dipenuhi. Sebenarnya sudah satu tahun aku menunggu kabar ini, tapi karena dia sendiri baru sembuh dari pengobatan pasca operasi pengangkatan sebelah paru-parunya di Perancis empat tahun lalu, aku merasa tidak ada masalah dengan itu. Aku menyampaikan lewat surat tentang kekhawatiranku apabila kedatanganku ke sana akan membuat kondisi kesehatannya buruk kembali. Tapi dia membuat aku tenang. Dia bilang, “Kondisi paru-paru bukan masalah, aku juga sempat mendapat diagnosa bahwa aku terjangkit tuberkulosis tapi aku masih merokok.”

Rumahnya terletak di Sotome, bagian utara Kota Nagasaki. Setelah perjalanan yang panjang, aku melihat rumah besarnya itu, dengan atap segitiga yang tinggi dan bagian-bagian lain rumahnya yang simetris, rumah itu begitu mencolok bila dilihat dari kejauhan. Ketika turun dari bus dan melegakan kaki-kakiku yang terlipat selama perjalanan, aku bisa mencium bau laut yang jelas. Semilir angin meniup rambutku pelan ke belakang, melebarkan kemejaku yang terbuka: kemudian dingin. Memang hari itu awan tebal hilir mudik dengan angin yang lumayan kencang, mungkin akan hujan, pikirku.

Usai menunduk-hormat kepada pelayan rumahnya, ia berkata, “Tuan Endō sedang menjalani terapi terlebih dahulu di kamarnya. Mari saya antar berkeliling rumah sembari menunggu.” Dan akhirnya kami mulai dengan ruang utama rumahnya. Ada pigura foto besar bergambar hanya dirinya seorang. Kemudian terdapat meja kayu antik, dengan ukiran kayu yang khas di kaki meja kanan kirinya, dengan bermacam buku yang ditumpuk rapi di dekat lampu yang terlihat seperti lampu belajar di ujung meja. Berlembar-lembar kertas berserakan di sisa meja yang kosong, dengan rentetan tulisan kanji yang berantakan. “Semenjak Tuan Endō sakit, tidak ada cerita yang selesai. Yang di atas meja ini hanyalah draf-draf yang ia kerjakan,” tutur pelayan rumahnya dengan sopan.

Meja tersebut adalah meja kerja tempat Endō biasa menulis. Tapi sang pelayan mengakui bahwa ada meja kerja sejenis di dalam kamar Endō, “Hanya saja ia sering menulis di luar. Sebab ia gemar merokok,” ujarnya.

Bagian yang paling aku sukai dari rumah Endō ini ialah balkon khusus yang menghadap laut. Deram ombak, deru arus, debur air yang menantang pasir dan batu, semuanya terdengar. Aku percaya jika tinggal di lingkungan seperti ini untuk waktu yang lama mampu membuat pendengaranmu menjadi tajam. Dan mungkin sanggup membikin dirimu mampu merasakan tanpa perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kemampuan yang sungguh bikin dengki tapi memang tidak semua orang memilikinya karena butuh kerja keras dan ketenangan yang luar biasa juga.

Aku memandangi laut, terasa begitu jauh sebab tak berujung. Hanya hamparan air yang mahaluas. Dan seketika pikiranku terbawa masuk ke dalam salah satu buku Endō dengan judul “When I Whistle”. Buku yang berlatar sebelum, saat, hingga selesai Perang Dunia Kedua tersebut menceritakan dua laki-laki yang berkawan dengan baik di satu sekolah menengah atas. Cerita persahabatan mereka terganggu ketika mereka berdua sama-sama harus menjalani wajib militer karena Jepang membutuhkan orang di baris-baris terdepan mereka. Singkat cerita, ketika semua sudah berlalu, perang yang berkecamuk pun berakhir dengan buruk, tidak hanya bagi Jepang namun bagi mereka. Dan si tokoh utama, menanggapi seluruh kesedihan itu dengan bersiul. Ketika ia bersiul, ia berharap segala kesedihan yang menghinggapinya mampu pergi… Ketika ia melihat seorang kawan mati, ia bersiul. Ketika ia melihat pantai yang pernah ia dan kawan baiknya itu gunakan untuk berenang telah direklamasi dan di atas bekas pasir pantainya ada apartemen yang menjulang. Tapi dari sela apartemen yang sesak itu ia masih merasakan semilir angin dan bau laut. Kemudian ia bersiul. Dan aku pun bersiul.

“Siulanmu buruk sekali,” kata satu suara yang tidak kukenal dari belakang punggungku. Aku buru-buru berbalik badan sambil meminta maaf. Ternyata aku melihat sosok Endō berdiri, dengan kacamata dan rambutnya yang hampir botak itu, dengan tangan kanannya ia perlahan merogoh rokok dari saku kemejanya. Badannya agak bungkuk dan ia bertumpu dengan sebuah tongkat. Bibirnya agak tersungging. Aku merasakan mungkin ia menertawakan siulanku yang buruk itu.

“Mau mengobrol di sini saja atau masuk ke ruangan kerja?” tanyanya.

“Di sini saja,”

“Baiklah, ambilkan aku kursi, tolong,” kemudian pelayannya langsung membawa keluar kursi merah yang digunakan di meja kerja.

Kemudian ada jeda yang lama setelah ia duduk di kursi. Aku masih agak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu. Tapi dia asyik merokok di atas kursinya: bertumpu dengan tongkat kayu. Dengan pelan aku mengeluarkan buku catatan juga pena dari dalam tas, membolak-balikan halamannya untuk mencari daftar pertanyaan yang telah kubuat sebelum berangkat ke rumah Endō.

“Uhm… Tuan Endō? Boleh saya mulai bertanya?” kataku pelan, mencoba memastikan semuanya berjalan baik-baik saja.

“Tentu.” jawabnya singkat sambil mengembuskan asap dari mulutnya.

“Baik… jadi akhir-akhir ini aku melihat bahwa tulisan-tulisanmu dianggap oleh pengamat dan kritikus sastra sebagai ‘batas’ antara Barat dan Timur?”

“Sebentar, aku agak tersanjung melihat kau memulai bahasan dengan sesuatu yang berbeda, tidak lagi membahas ‘Silence’ ataupun ‘Deep River’.” katanya sambil tersenyum. “Semua jurnalis ataupun terpelajar yang datang ke sini atau mendatangkan aku ke sana pasti selalu bertanya tentang dua buku itu.”

“Aku memang tidak membuat pertanyaan apapun tentang dua novel tersebut, sih, mengingat memang sudah sangat sering dibahas di luar sana. Tapi aku tetap punya satu-dua pertanyaan spesifik tentang karyamu, tentu saja.”

“Iya, iya.”

Kemudian hening untuk beberapa saat, ia menatap jauh ke laut, seakan sedang menunggu kapal yang bersauh hendak menghampiri rumahnya.

“Sebenarnya pengertian antara Barat dan Timur tersebut selalu mengacu kepada perbedaan kultur, kan? Selalu ada penulis yang terlalu kebarat-baratan, dan ada juga sebaliknya. Dan mungkin maksudmu batas adalah: aku ada di antaranya, bukan begitu?” Kemudian ia melanjutkan dengan pelan, seakan ia memilah kata agar tidak ada sesuatu yang salah keluar dari mulutnya.

“Aku selalu dihadapkan kepada tiga hal ketika menulis, fakta bahwa aku orang Jepang, bahwa aku seorang Katolik, dan bahwa aku seorang penulis.”

“Bagaimana bisa?” tanyaku dengan penasaran.

“Jelas karena kultur yang dimiliki Jepang dan kultur yang dimiliki Katolik—yang notabenenya datang dari Barat, sangatlah berbeda. Ketika Barat memandang keindahan memiliki batas yang jelas karena memang Tuhan dan agama mereka membatasi seperti itu, Jepang sangat tidak seperti itu. Jepang menabrak batas-batas keindahan hingga apa yang dianggap indah oleh kita sangatlah bias dan tidak terbatas. Rona senja, warna abu-abu yang dihasilkan oleh hujan lebat. Tapi bisa jadi kita memandang senja hari ini tentu tidak seindah senja hari kemarin.”

“Boleh kau memandang tidak adanya agama monoteisme di Jepang yang membikin hal-hal tersebut terjadi karena memang benar adanya.”

“Mungkin ditambah dengan betapa dekatnya manusia Jepang dengan alam yang mana tidak ada perbedaan antara manusia dengan alam karena manusia merupakan bagian daripada alam.” Aku menggumam perlahan, takut bila dipandang sok tahu olehnya.

“Bisa jadi benar yang kau katakan itu. Mungkin hal itu juga jadi alasan sulitnya agama monoteisme berkembang di Jepang.” Dia berkata sembari menggosok-gosokan tangan ke daerah dagunya. “Dan Tuhan yang dimaksud oleh Jepang sangatlah dekat malah terkesan tiada bedanya dengan alam itu sendiri. Izanami dan Izanagi misalnya, berkaitan dengan ruang dan waktu. Di Kojiki malah digambarkan Izanami yang mandi dan air yang meleleh dari tubuhnya bersatu dengan tanah, menjadikannya dewa-dewi baru.”

“Mungkin juga mengapa Buddha lebih mudah diterima oleh manusia Jepang, ya sebab Shinto dan Buddha bisa dibilang merupakan kepercayaan yang lebih dekat dengan alam ketimbang kepada manusianya.” kataku lagi.

Tiba-tiba ia menatapku dengan serius, “Ya, ya, mungkin benar. Dan hal itu jelas mempengaruhi apa-apa yang dituangkan di dalam karya-karyaku.”

“Misalnya di ‘The Samurai’, di sana aku menulis jelas tentang Pastor Pedro Velasco. Seorang Spanyol tulen yang datang ke Jepang dengan niat menyebarkan agamanya karena ia menganggap manusia-manusia Jepang terbelakang: masih menyembah batu, menghormati alam. Padahal laporan yang ia terima adalah bahwasanya manusia Jepang begitu menarik, masyarakat Timur yang pintar. Nah, selama perjalanan novel itu, aku sebagai Katolik menulis tentang perjuangan Velasco yang sangat ingin membikin manusia Jepang memeluk agamanya—bahkan hingga harus menempuh beberapa bulan di laut untuk membawa mereka ke Nueva España (Meksiko) hingga Spanyol. Bahkan aku pun menjelaskan cara melakukan misa, cara pembaptisan, dan lain sebagainya. Di sisi lain aku sebagai manusia Jepang menulis tentang pergolakan yang terjadi dalam masing-masing kepala samurai yang turut serta pergi ke Spanyol. Pergolakan yang paling jelas terjadi, misalnya, ketika tugas yang diembankan kepada mereka tidak mampu berhasil, bahkan setelah mereka melakukan apapun, termasuk menggadaikan kepercayaan yang selama ini mereka pegang, mereka selalu memegang teguh perasaan malu yang teramat sangat. Hingga berpikir lebih baik mati dengan pedang sendiri daripada pulang dengan tangan tanpa isi.”

Ia memaparkannya hampir tanpa jeda, tanpa banyak berkedip, dan dalam beberapa tarikan napas yang panjang saja.

“Atau di ‘A Summer in Rouen’, ketika Kudo pergi ke Perancis sekitar tahun 1950. Perlu kau tahu bahwa Perancis dan Kristen sulit dipisahkan. Ketika aku di sana, aku bisa melihat apapun yang berhubungan dengan Kristen di sana—tidak, bahkan aroma yang terasa pun aroma Rosario, air suci, dan lainnya,” ia tertawa pelan. “Kudo ini menghabiskan satu musim panas dengan keluarga Katolik yang taat. Sebagai seorang Jepang, kedatangan Kudo dianggap agak aneh. Pertama, Jepang baru mengalami kekalahan yang dahsyat dalam perang, kedua, ia merupakan pemeluk Katolik. Aku berusaha menggambarkan tentang keluarga Perancis tersebut yang sedikit tahu soal Jepang, bahkan beberapa pertanyaan terasa terlalu privat jika ditanyakan kepada orang Timur. Tapi mereka jelas tidak peduli karena mereka orang Barat.”

Ia melanjutkan lagi, “Sebenarnya Barat atau Timur sungguh tidak ada bedanya, semuanya hanya kembali kepada bagaimana dan dengan cara apa kau memandang dunia ini.”

Dan kalimat tersebut muncul-tenggelam di kepalaku seperti ombak yang aku lihat dari jendela bus di perjalanan pulang. Satu rangkaian ombak muncul lalu tenggelam. Kemudian muncul lagi satu rangkaian yang setelah beberapa detik belum lagi tenggelam, hingga ombak tersebut menjauh… hingga jauh… hingga mata tak sampai memandangnya…