27 Maret 2019

RAKUGO, Stand Up Comedy yang Duduk dari Jepang

Ditulis oleh Fadhilatun Nisa’

Si Pintar : ”Hei. Sepertinya kamu sering bermain-main dan tidak bekerja belakangan ini. Bagaimana caramu makan?”
Si Bodoh : “Ah. Aku memegang mangkuk nasi di tangan kiri dan sumpit di tangan kanan… Lalu…”
Si Pintar : “Bukan, bukan. Maksudku bukan itu… Ah, bagaimana caramu mendapatkan nasi itu?”
Si Bodoh : “Oooh, aku mengambilnya dari pengukus.”
Si Pintar : “Nah. Darimana nasi di dalam pengukusmu berasal?”
Si Bodoh : “Dari tempat berasku.”
Si Pintar : “Bagaimana dengan beras di penyimpananmu?”
Si Bodoh : “Dari toko beras yang menjualnya.”
Si Pintar : “Itu maksudku! Bagaimana caramu membeli dari toko beras?”
Si Bodoh : “Memangnya aku membeli?”

Dikutip dari kisah Sagitori (Menangkap Burung Kuntul; とり), dalam buku Understanding Humor in Japanese Interpersonal Communication, disunting dengan bahasa Indonesia.)

Seorang Rakugoka di atas panggung
Seorang Rakugoka di atas panggung

Lucu, tidak? Tadi itu adalah contoh dari seni bercerita tradisional dari Jepang, Rakugo (落語). Rakugo seperti Stand Up Comedy di Barat, hanya saja, penceritanya, atau yang disebut pula dengan Rakugoka (落語家) bercerita sambil duduk bersila di Zabuton (座布団) yang merupakan bantal alas duduk, di atas panggung yang disebut Kouzamei (高座名). Rakugo adalah anekdot yang pertama diceritakan dari masa Edo, mengenai komedi, drama, atau kisah satir tentang masyarakat.

Rakugoka biasanya akan mengenakan kimono (着物), yukata (浴衣), hakama (袴), atau luaran pakaian Jepang, haori (羽織). Jika pencerita pada umumnya dapat bergerak secara bebas di panggung, Rakugoka hanya dapat menceritakan cerita hanya dengan duduk saja. Tidak hanya itu! Properti yang digunakan pun sebatas kipas lipat (扇子) dan sapu tangan (手拭い) saja! Lalu bagaimana caranya Rakugoka ‘beraksi’ di panggung?

Sangat sederhana namun bertenaga. Hal penting dari pertunjukkan Rakugo adalah imajinasi penonton. Meski bermain tanpa musik, Rakugoka dituntut memerankan berbagai karakter sekaligus meski sendirian saja. Rakugoka tidak akan duduk dengan tenang. Tangannya bisa dikepakkan seperti terbang, lututnya akan bergerak seolah melangkah. Ekspresi wajahnya dapat berubah dengan kuat dan cepat, ditambah suaranya lantang akan mengekspresikan efek suara dari setiap tingkah lakunya. Mata Rakugoka akan sangat bermain ketika ia menjadi peran yang berbeda. Rakugoka akan terlihat seperti berbicara dengan sisi lain dari dirinya sendiri seperti pantomim. Kipas dan sapu tangannya bisa berubah menjadi berbagai hal, seperti sumpit dan mangkok, buku dan pena, teko, gunting, dan lain-lain.

Hal yang paling menarik dari Rakugo adalah, Rakugoka dapat menceritakannya dengan apik dan ekspresif meskipun duduk sepanjang cerita dan menggunakan properti yang sangat terbatas. Kouzamei pun tidak akan dihias dengan dekorasi, paling tidak hanya sedikit tulisan di tirai belakang Rakugoka. Kemudian sisanya diserahkan kepada para penonton yang akan membayangkan apapun yang dilakukan oleh Rakugoka.

(Silakan intip laman dan video ini untuk melihat penggambaran Rakugo yang lebih interaktif, ya!)

Akhir abad ke-17, Rakugo muncul sebagai bentuk dakwah dari agama Buddha yang terinspirasi dari bagaimana cerita-cerita beredar di masyarakat. Anrakuden Sakuden, pendeta Buddha dari sekolah Jodo disebut-sebut sebagai penemu dari Rakugo. Ia membuat buku Seisuisho (Guyonan untuk Menghilangkan Kantuk) dan membuat 8 buku yang berisi 1039 guyonan. Kemudian Rakugo berkembang menjadi sangat terkenal.

Pada zaman Sengoku, penulis atau pelatih upacara minum teh kerap dipanggil Daimyo untuk menghibur. Kadang kala Rakugo pun digunakan untuk membuat para petinggi terjaga di malam hari ketika sedang ada serangan. Rakugo sempat berubah menjadi eksklusif dan hanya bisa dinikmati di istana, namun kembali lagi menjadi hiburan segala kalangan. Orang-orang yang hendak mempelajari Rakugo disebut Deshi (弟子). Rakugoka seluruhnya laki-laki hingga tahun 1993 dibolehkan Rakugoka perempuan.

Tema yang diceritakan dalam Rakugo ada berbagai macam. Kokkei-banashi (滑稽話) yang mengocok perut, Ninjobanashi (人情噺) yang menggambarkan emosi, lalu Kaidan-banashi (怪談話) yang mengisahkan cerita seram. Cerita akan dibuka dengan bagian yang disebut makura (まくら), yang akan mengarahkan kepada cerita atau hanashi (はなし). Lalu ada kusuguri (くすぐり) yang akan mengantar kepada bagian yang paling lucu/klimaks dari hanashi. Kusuguri bisa berupa permainan kata, adlibs, melebih-lebihkan penampilan, atau cara berbicara karakter. Terakhir, adegan klimaks dari yang harus ada pada Rakugo, Ochi (オチ), atau bagian punch-line. Fun fact, bagian Ochi kerap disebut sebagai Raku, yang kemudian menjadi asal-usul dari kata Rakugo!

Yose (Teater Rakugo) di Shinjuku
Yose (Teater Rakugo) di Shinjuku

Rakugo sempat disiarkan di Nihon TV dalam acara Shoten. Rakugoka terkenal sampai saat ini antara lain Katsura Kaishi, Katsura Sanshiro, dan Rakugoka bilingual yang lahir di Liverpool, Diane Kichijistu. Pertunjukkan Rakugo dilakukan di ruangan besar yang disebut yose (寄席). Beberapa tempat yang sampai saat ini mengadakan Rakugo diantaranya; Shinjuku Suehirotei, Suzumoto Engeijou di Ueno, Asakusa Engei Hall, Ikebukuro Engeijou, dan Tenma Tenjin Hanjoutei di Osaka. Biasanya tempat-tempat ini dibuka pada pukul 4 sore, 5sore sampai 9 malam. Harga tiketnya untuk dewasa umumnya ¥3,000 atau, sekitar Rp380.000,00. Bagaimana, tertarik untuk menonton Rakugo?


SUMBER:
Terjemahan oleh Nabila Hasriasti P.
Buku Understanding Humor in Japanese Interpersonal Communication, diedit oleh Jessica Milner Davis
Rakugo (The Art of Storytelling) https://www.nippon.com/en/features/jg00045/rakugo-the-art-of-storytelling.html
Rakugo https://www.japan-experience.com/to-know/visiting-japan/rakugo
Rakugo, Seni Lawak Jepang http://idn.wakuwakumag.com/rakugo
Rakugo, Seni Lawak Jepang yang Segar dan Menghibur http://www.buruan.co/rakugo-story-telling-tradisional-jepang-yang-segar-dan-menghibur/