25 Mei 2019

Keindahan adalah Kawabata, Kawabata adalah Keindahan

Ditulis oleh Rifqaiza Pravangesta

Di hari itu sore datang, dia keluar dengan lesu dari rumahnya di Kamakura. Sudah berhari-hari ia bisa tidur bila minum obat tidur saja. Temannya bilang kesehatannya yang buruk datang karena ia masih sangat bersedih dengan kematian sahabat—mungkin dianggap sebagai anak sendiri—yaitu Mishima Yukio, yang mati dengan gagah dengan seppuku usai gagal membuat kudeta. Malam harinya, ia memutuskan untuk tidak pulang dan menginap di apartemennya di Zushi. Besok hari kemudian datang, dan pada hari itu, 16 April 1972, Kawabata Yasunari ditemukan meninggal dengan ujung selang gas di mulutnya. Polisi menetapkan kejadian tersebut dengan bunuh diri, tapi saya percaya bahwa itu merupakan sebuah kecelakaan karena Kawabata tidak meninggalkan surat apa pun yang membuat saya (juga banyak orang lainnya) mengasumsikan seperti itu.

Pada hari itu, Kawabata meninggalkan prestasi yang gemilang karena menjadi manusia Jepang pertama yang mencatatkan namanya di daftar peraih Nobel Kesusastraan. Ia meraihnya pada 1968. Javier Marias dalam bukunya, Written Lives, menceritakan bahwa sesungguhnya pada 1968 meskipun yang diberitakan bahwa penulis Jepang akan memenangi penghargaan tahun itu, dibanding Kawabata, Mishima lebih dijagokan. Katanya bahkan Mishima sampai menyewa pesawat jet pribadi untuk membawanya pulang ke Jepang (waktu itu ia berada di luar negeri) agar para penggemar dan media dapat segera meliput kemenangannya di Nobel. Sayang Dewan Swedia hanya mengundang Kawabata pada tahun itu untuk menyampaikan pidatonya yang menurut saya sangat melambangkan dia: indah. Judulnya saja “Japan, the Beautiful and Myself.

Di pidato itu, Kawabata mengatakan dua puisi yang selalu dia ingat jika menulis shūji adalah,

“Di musim semi, sakura bermekaran, di musim panas, burung kukuk.
Di musim gugur sang bulan, dan di musim semi salju jelas, dingin.”

dan,

“Bulan bersalju datang dari awan untuk tetap menemaniku.
Angin menusuk, salju dingin.”

Katanya, yang pertama karya Dōgen, dan yang kedua adalah karya Myōe. Dan dari dua puisi tersebut saya jadi ingat kalimat pembuka novel Snow Country. Tertulis, “Kereta pun keluar dari terowongan panjang menuju negeri salju.” Menurut salah satu jurnal yang saya baca, pembuka novel tersebut seperti haiku: singkat tapi membuka jalan menuju makna yang lebih komprehensif jika ditinjau lebih lanjut. Kemudian dia mengutip Dr. Yashiro Yukio yang menurutnya merangkum satu karakteristik spesial dari kesenian Jepang: “Di waktu salju, bulan, atau bunga bermekaran—kemudian lebih dari apa yang pernah kita bayangkan dari teman-teman kita.”

“Salju, bulan, bunga bermekaran, kata-kata tentang musim (dalam haiku dikenal dengan istilah kigo) yang termasuk rumput, sungai, gunung, semua manifestasi alam, yang juga perasaan manusia, adalah keindahan.” katanya. Kawabata sendiri memang gemar menaruh keindahan-keindahan sederhana di buku-bukunya, tapi tak lupa, biasanya keindahan tersebut erat kaitannya dengan budaya Jepang sendiri. Favorit saya adalah Thousand Cranes. Novel tersebut tipis, saya membacanya hanya satu hari di sebuah perjalanan commuter line yang padat menuju rumah. Ceritanya sebenarnya hanya tentang Kikuji yang terperangkap dalam kecemburuan perempuan-perempuan mantan selir atau istri bapaknya sendiri. Seperti karya Kawabata yang lain, novel ini secara umum membahas tentang cinta (terlarang tentunya). Yang membuatnya berbeda adalah Kawabata membalut kisah ini dengan seni minum teh Jepang, yang menurutnya terdapat keindahan spiritual dan formal di sana. Dan dia dengan luar biasa membahas dengan detail upacara minum teh tersebut, terlebih Kikuji di sana sebagai tuan rumah, dengan selir bapaknya yang menyajikan upacara minum teh tersebut.

Walaupun saya menjadikan Thousand Cranes sebagai favorit, saya merasakan bahwa cerita-cerita pendek Kawabata sungguh menggugah. Ia menulis seratus lebih cerita pendek (yang masing-masingnya maksimal memiliki halaman sebanyak 5) dalam sebuah kumpulan yang dinamakan Palm of Hand Stories. Bacalah tiga cerita pertamanya. Saat Studi Klub Adit <Sebuah klub diskusi sastra di kampus penulis.> berjalan dan kami membaca tiga cerita pertamanya: terasa hangat karena romansanya, tapi juga terasa dingin karena kepiawaian memutus cerita dan memaksa cerita untuk selesai dalam dua hingga lima halaman.

Kemudian sampai habis, Kawabata hanya membicarakan tentang puisi-puisi dan haiku-haiku yang saling berkaitan dengan keindahan, berikut potongan-potongan puisinya. Dan ketika ia menyebut Tales of Ise dan The Tale of Genji, saya jadi teringat (lagi) dengan kata-kata dosen sastra Jepang saya di kampus, bahwa kiblat keindahan, utamanya di sastra Jepang, terdapat di 3 nama: yang pertama adalah The Tale of Genji, ditulis oleh Murasaki Shikibu, seorang perempuan bangsawan, dan dianggap sebagai salah satu novel yang paling pertama ditulis. Dan tema yang diusung oleh Shikibu di bukunya itu hanya kisah hidup seorang tokoh bernama Genji dari lahir hingga pasca kematiannya, juga kisah cintanya yang kabarnya dia merupakan seorang pencinta perempuan. Kemudian katanya, yang kedua, keindahan terdapat dalam karya-karyanya Matsuo Basho. Seorang penulis haiku yang karyanya diambil dari buku hariannya saat berkelana. Basho sendiri menginspirasi seorang penyair di Inggris, Ezra Pound, yang pada akhirnya menjadi penggerak sebuah aliran kesusastraan baru. Haikunya yang paling terkenal adalah:

Kolam tua
Katak melompat
Suara air

Bagi orang-orang mungkin terdengar aneh dan tidak mempunyai makna yang jelas. Tapi itulah indahnya haiku, terletak di makna yang begitu bias namun dengan struktur yang begitu lugas.

Kemudian yang ketiga, keindahan dapat ditemukan pada karya-karya Kawabata Yasunari, yang mungkin harus segera kamu baca karena sampai sekarang, kata dosen tersebut, belum ada lagi yang melanjutkan keindahan dari tangan Kawabata.