01 Oktober 2020

Aku Bisa Percaya Kalau Tangan Kananku Adalah Melos!

Zulfikar B. Fuadi

Ditengah keramaian kantin Shokudou saya mendengar perbincangan teman-teman yang sedang membahas tugas Nihonbungaku. Saat itu angkatan saya sedang gemar-gemarnya pergi ke Toshokan untuk meminjam buku atau sekedar membunuh waktu istirahat. Walau saya seringkali membunuh waktu saya di kantin sambil makan bersama teman, kadang saya mondar-mandir tanpa tujuan juga untuk membaca satu-dua kalimat dari sebuah buku yang covernya terlihat menarik. Ketika sudah tidak ada kelas atau keperluan lagi di kampus, biasanya saya langsung kembali ke kos untuk meneruskan gambar atau menyelesaikan PR. Namun saya sadar akan kebiasaan buruk itu dan sesekali mencoba untuk bercengkrama dengan penduduk PSBJ untuk menambah presensi sosial saya.

“Lu ngambil Dazai, Jul?” kata seorang teman saya, kebetulan dia lebih semangat dalam hal yang berkesinambungan dengan sastra Jepang, bahkan sampai buka toko buku online juga. Kita berbincang mengenai tokoh sastra yang dipilih dan sedikit menghakimi karya-karya mereka seakan-akan kita kritikus yang relevan dalam dunia tulis menulis. Dari percakapan itu, saya sadar bahwa karya Osamu Dazai tidak hanya yang dijelaskan oleh dosen saja ketika kelas. Sepulangnya dari kampus, saya mencari lebih lanjut lagi karya lainnya.

“Waduh, ini orang kok edgy semua ya karyanya.” Dalam pikiran sambil melihat laman Wikipedia Dazai. Perasaan saya waktu itu antara heran dan miris sekilas melihat cerpen dan novel buatannya, namun saya menemukan salah satu yang menurut saya menonjol. Di antara publikasi awal-awalnya seperti Omoide dan Kakekomi Uttae, terselip cerpen berjudul Hashire Merosu. Saat saya membaca bahasa Inggrisnya, judul cerpen ini memiliki tanda seru (!) sebelum kata Melos (ditulis Run! Melos). Karena penambahan tanda baca dari judul dalam bahasa Inggris tersebut, saya tidak tahan untuk mengecek halaman yang mengandung cerpen tersebut. Jangan-jangan ada yang beda dari cerpen ini. Karya sastra Jepang seringkali menyelipkan pesan atau makna tersembunyi dari karyanya, bisa dalam bentuk semiotik atau berupa majas dalam judulnya, yah, ini pikiran saya saja yang terlalu memikirkan hal kurang penting seperti itu.

Hashire Merosu menceritakan Melos, seorang pemuda naïf dan idealis yang bekerja sebagai gembala di zaman Yunani kuno. Penguasa pada masa itu, Dionysius, adalah seorang raja yang kejam dikarenakan sifatnya yang tidak dapat mempercayai orang dan mengecam untuk membunuh siapapun yang berbeda pandangan dengannya. Bahkan sampai membunuh suami dari adik perempuannya karena masalah kecil. Merasa kesal dengan sifat rajanya yang begitu kejam, Melos berniat untuk membunuh sang raja, Dionysius. Sayangnya, dia bukan orang pintar, Melos tertangkap basah ketika akan membunuhnya terang-terangan.

“Apa yang akan kamu lakukan dengan pisau ini? Jelaskan!”

Tanpa tergetak, Melos membalas, “Membebaskan kota ini dari raja biadabnya.”

“Kamu…?!” Dionysius senyum sambil menggertak. “Bodoh tak tertolong! Orang sepertimu tidak bisa mengira seperti apa rasanya jadi raja!.”

Ketika Dionysius menyertakan para algojo untuk mengeksekusi Melos; ia memohon kepada Dionysius untuk menunda pengeksekusiannya selama 3 hari dengan alasan bahwa ia harus mendatangi pernikahan adik peremuannya sebelum hidupnya diakhiri. Dengan jaminan Melos akan menyerahkan temannya, Selinuntius, sebagai sandra untuk dieksekusi apabila dia telat atau tidak datang kembali dalam kurun waktu 3 hari. Dionysius setuju dan akan memaafkan Melos sekiranya ia telat atau tidak datang kembali, tetapi Selinuntius yang akan dieksekusi sebagai gantinya.

“Datanglah dalam tiga hari, dan jika pada hari itu matahari sudah terbenam dan kamu telat, aku akan membunuhnya. Hm, lagi pula, kau juga akan sengaja telat sedikit, akan aku ampuni kau jika kau telat.”

“Apa maksudmu?” kata Melos, “Aku tidak mengeri perkataanmu.”

“Ayolah, aku mengerti maksudmu, kalau kau tidak ingin mati, lebih baik telat saja toh?”

Melos menghentakkan kakinya dengan amarah besar. Dia tidak ingin berbicara lagi.

Setelah kembali ke tempat asalnya, Melos memaksakan adik perempuannya untuk cepat menikah dengan tunangannya yang awalnya segan untuk memenuhi keinginannya, sembari upacara pernikahan berlangsung, Melos merasa letih dan tertidur pulas sampai hari larut. Pagi harinya, ia memulai perjalanan kembali ke kota Siracusa untuk menuhi janjinya, seiring perjalanan, Melos menemukan berbagai tantangan dan godaan seperti jalan yang rusak, kabur dari para penjahat yang berniat menculik orang hilang, bahka, di pertengahan perjalanannya, seorang kenalan menghasut Melos untuk menyerah dan tidak usah terburu-buru karena ia sudah “terlambat” untuk menyelamatkan Selinuntius. Namun Melos tetap melanjutkan perjalanannya.

“Siapa kau?”

“Philostratus, teman dari sahabatmu Selinuntius,” katanya sambil berwajah masam menghampiri Melos dengan tergesa-gesa. “Berhentilah, sudah terlambat. Dia tidak bisa diselamatkan.”

“Tapi, matahari belum terbenam!”

“Mereka akan mengeksekusinya sekarang. Sudah terlambat. Sayang sekali. Andaikan kamu datang kembali sedikit lebih cepat…”

“Tapi, matahari masih terang!” tangis Melos, hatinya hampir meledak sembari memandang sebuah lingkaran merah besar di langit. Ia tahu bahwa ia harus terus berlari.

“Tolong, berhentilah. Hidupmu terancam sekarang. Selinuntius mempercayaimu. Dia tetap tenang ketika mereka membawanya ke tempat eksekusi. Bahkan ketika sang raja mengejeknya, dia tetap percaya kepadamu. Ia berkata bahwa kamu akan kembali.”

“Karena itu aku harus berlari!” balas Melos “karena dia percaya padaku. Tidak mungkin aku telat, aku berlari terhadap sesuatu yang lebih penting dari hidup. Ikuti aku, Philostratus.”

“Yah, kamu sudah gila rupanya,” kata Philostratus. Lalu ia membuka kedoknya dan berkata “Mungkin kamu belum telat, karena itu, teruslah berlari.”

Sesampainya di Siracusa, ia datang tepat waktu disaat Selinuntius akan dieksekusi, di depan kerumunan dan raja Dionysius, Melos meminta Selinuntius untuk menamparnya atas kesalahannya yang sudah berpikir untuk menyerah dan mengkhianati janjinya, dan Selinuntius meminta Melos untuk menampar dirinya atas keraguannya terhadap Melos untuk datang dan memenuhi janjinya. Ditengah kebingungan, sang raja terpaksa untuk melihat perspektif mereka berdua, dan akhirnya membiarkan keduanya bebas karena Melos telah memenuhi janjinya dan Selinuntius telah mempercayai temannya.

“Kalian telah menang, dan harapan kalian terpenuhi. Aku sadar bahwa kepercayaan bukan hanya sekedar omong kosong di antara lelaki ini,” ujar Dionysius. “Apakah kalian mau menjadi tangan kananku? Tolong pikirkan permohonan ini, aku ingin menjadi teman kalian.”

Raykat yang berkerumunan bersorak, “Hidup sang raja! Hidup sang raja!”.

Hashire Merosu adalah cerita pendek yang dipublikasi tahun 1940, cerita pendek ini mendapat referensi dari tema Yunani kuno karya Friedrich Schiller dan menjadi karya Dazai terdahulu yang terkenal dan digunakan sebagai bahan ajaran sekolah di Jepang sampai masa kini. Tema cerita Hashire Merosu bisa dibilang unik dibandingkan karya-karya Dazai yang lainnya; atmosfir dari cerita pendek ini mengarah kepada tulisan yang inspiratif dan berpesan mengenai nilai moral tokoh dibandingkan karya-karya Dazai yang pada umumnya dikenal memuat unsur nihilisme, kontemplasi jati diri dan menelaah sisi gelap dan derita seorang individu.

Bagi saya, Hashire Merosu memiliki nilai unik dibalik keunikan genre dari karya-karya Dazai lainnya, pertama-tama, jarang sekali karya tulis Dazai yang memiliki alur maju dan berakhir dengan bahagia. Dari perbedaan itu saja membuat saya merasa karya ini patut untuk dijadikan highlight ketika akan membaca karya-karya Dazai. Hashire Merosu dikaitkan dengan sifat keras kepala manusia yang (secara tidak realistis namun terjadi) dapat mengubah pandangan orang lain dalam kehidupan sehari-hari, dengan tekad Melos dan kepercayaan buta Selinuntius; mereka bedua dapat membuktikan kepada Dionysius bahwa ada jalan lain untuk memecahkan masalah tanpa harus saling mencurigai, berburuk sangka dan berpikiran tertutup. Jauh lebih mudah apabila Melos menyerah di perjalanan atau bahkan tidak memenuhi janjinya sama sekali dan kabur, dan jauh lebih mudah untuk jatuh terhadap godaan dari pihak luar untuk memengaruhi diri sendiri. Tetap saja, Melos memilih jalan yang terlihat pahit dan melelahkan untuk menepati janjinya.

Jika dilihat dari sudut pandang mahasiswa yang beranjak dewasa, Hashire Merosu adalah cerpen kekanak-kanakan yang tidak realistis dan sama sekali tidak masuk akal. Jika ada yang berkata seperti itu, saya akan setuju. Tentu saja cerpen ini tidak masuk akal, ekspektasi saya ketika membaca cerpen ini mengandung unsur kontemplatif yang besar seperti karya Dazai pada umumnya, mungkin seharusnya Melos pada akhirnya menggunakan otaknya di tengah jalan dan mencari cara lain untuk menyelamatkan Selinuntius tanpa harus membunuh dirinya sendiri setelah menguras tenaga berlari. Atau mungkin, di tengah jalan, Melos menghadapi krisis identitas yang membuatnya menyesali perbuatannya, sehingga dia mengalami keretakan mental dan bunuh diri karena tidak bisa membayangkan kehidupan di mana dia mengingkar janjinya.

Nilai kepercayaan dalam implementasi kehidupan sehari-hari, menurut saya, lebih susah untuk didapatkan dibandingkan mencari uang 100 ribu di tengah jalan. Tidak usah jauh-jauh untuk mencari kebohongan seseorang untuk memecahkan kepercayaan –  lihat kembali gambar headline artikel ini dan perhatikan kembali, apakah ada yang aneh dengan hubungan judul dan gambar tersebut. Untuk mempercayai seseorang di masa kini seperti menyerahkan minuman Fruit Tea 500ml milik anda dari kulkas kantin kepada teman di tengah hari yang panas dan berharap dia tidak akan memintanya lebih dari satu tegukan.

Tetapi, Hashire Merosu membuat saya mempertanyakan sudut pandang yang skeptis tersebut, saya tahu bahwa situasi dalam cerita ini hampir tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata, tapi mungkin, ketika suatu hubungan antar individu sudah sangat kuat, mereka tidak perlu ungkapan ‘aku percaya padamu’ atau ‘aku memahami apa maksudmu’ untuk membuktikan rasa saling percaya dalam menyelesaikan masalah. Dalam cerpen ini, diceritakan bahwa Selinuntius sebagai teman dekat Melos, namun, mereka baru bertemu lagi setelah beberapa tahun tidak bersua. Dan dalam pertemuan mereka setelah lamanya, Melos memohon kepada Selinuntius untuk mempercayainya dengan taruhan nyawa. Kalau saya jadi Selinuntius, saya akan bertanya seribu kali sebelum saya mengerti situasi apa yang Melos maksud. Dan memang kita umumnya mempertanyakan kehendak dari orang dekat kita sebelum menaruh kepercayaan. Namun, cerpen ini mengimplikasi bahwa ada kalanya urgensi seseorang dalam meminta kepercayaan temannya tidak menyempatkannya untuk menjelaskan sejelas-jelasnya situasi miliknya. Hal itu sangat disayangkan, karena banyak sekali situasi ketika kita menginginkan teman dan keluarga untuk mempercayai kita, namun kita tidak mampu menjelaskannya dalam kata-kata tertentu.

Saya tidak merasa karakter saya berubah banyak dari membaca Hashire Merosu, ketika seseorang mengingkari apa yang dikatakannya, sering kali saya berpikir bahwa manusia begitu menganggap enteng rasa tanggung jawab dan kepercayaan, namun, dari buku ini, saya mampu berpikir bahwa mungkin mereka tidak bisa memenuhi ekspektasi saya dikarenakan hal-hal yang tidak bisa saya bayangkan. Saya hanya bisa mengatakan ‘aku bersimpati’ atau ‘sayang sekali, ya’ ketika mendengar keluh kesah atas kesalahan seseorang di masa lalunya tanpa memikirkan bagaimana jika saya ada di situasi sepertinya. Sedikit empati dan toleransi yang cukup tidak akan membuat anda terlihat gampang dimanipulasi – lebih baik dari itu, menjadi orang yang naif terkadang merupakan resep utama untuk menjunjung rasa toleransi yang lebih baik dalam sehari-hari. Dan mungkin, mungkin saja, dari rasa toleransi itu tumbuh kepercayaan antara anda dan teman anda. Prasangka yang berkata “dia telah mengecewakanku, aku tidak akan percaya dirinya” menjadi “dia telah mengecewakanku, tetapi aku percaya dia bisa berbeda kali ini”. Cara berpikiran ini sangat riskan, namun, apabila teman anda memang memenuhi harapan anda kali ini, dan anda berprasangka baik terhadapnya, poin bonus untuk menjalin hubungan yang didasarkan rasa percaya pun akan bertambah.

Di tengah tahun 1940, Dazai menikahi Michiko Ishihara sebagai ganti dari istrinya yang dia ceraikan karena selingkuh dengan sahabatnya. Anaknya yang pertama lahir pada tahun 1941. Dengan pengetahuan bahwa dia akan dikaruniai seorang anak, dia menulis cerpen-cerpen yang memiliki tema di luar spesialisasinya. Bagi saya, Hashire Merosu yang mengandung tema kepercayaan terefleksi sebagai cahaya redup dalam diri Dazai yang menjalani hidup merana. Dengan karya paling terkenalnya, “Manusia Gagal”, dan karya terakhirnya sebelum terakhir berjudul “Selamat Tinggal”, cerpen ini membuktikan bahwa Dazai tidak sepenuhnya menenggelamkan dirinya terhadap kegilaan dan rasa gundah yang meledak-ledak pada masa transisi sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Dia melakukan hal yang penuh dekadensi, seperti memboroskan uang, bermain wanita, dan mabuk-mabukan dengan tangan kanannya, mungkin seiring menjalani hidupnya, Dazai pun berharap memiliki tangan kanan yang dapat ia percaya sepenuhnya layaknya Melos. Dan berharap anaknya tidak meneruskan tabiat-tabiat buruk yang telah dia lakukan.

Sumber:

Dazai, Osamu, 1989:Crackling Mountain and Other Stories, Berkeley Books: Tuttle Publishing. (Terjemahan James O’Brien)

Dazai, Osamu, 1988 :Run! Melos and Other Stories: Kodansha: Kodansha International.

(Terjemahan Ralph McCarthy)

太宰治全集3ちくま文庫、筑摩書房 1988(昭和63)年10月25日初版発行

(https://www.aozora.gr.jp/cards/000035/files/1567_14913.html)