01 Oktober 2020

Boogiepop yang Tidak Tertawa: Eksperimen Adaptasi yang Sia-Sia?

J.T.

“Jika Anda ingin mencari hiburan, maka serial ini bukan untuk Anda. Karena serial ini menceritakan serangkaian kisah-kisah rumit yang akan membuat Anda bertanya-tanya akan banyak hal. “Let me address this by saying  anime is NOT something meant to entertain you, but rather tell a complex story while making you think and ask questions.” adalah komentar menarik yang saya temukan ketika akan mulai menonton Boogiepop wa Warawanai (2019) (ブギーポップは笑わない 2019 atau Boogiepop and Others 2019), serial anime hasil adaptasi dari beberapa volume light novel Boogiepop itu sendiri.

Penting diketahui bahwa serial novel Boogiepop ini merupakan salah satu dari barisan light novel pertama yang dipublikasikan di Jepang. Dirilis pada tahun 1998, serial Boogiepop menjadi acuan standar dalam light novel genre dementia, misteri, dan psikologi, seperti temannya, Serial Experiments Lain, light novel yang diadaptasi menjadi seri anime tak jauh dengan adaptasi Boogiepop pada 2002 (Boogiepop Phantom), serial Boogiepop menjadi pemenang pada Dengeki Novel Prize ke-4.

Disutradarai oleh Natsume Shingo (One Punch Man) dan penulis skrip Tomohiro Suzuki (One Punch Man, ACCA), Madhouse sepertinya memang berniat untuk membawa adaptasi ini sebagai tantangan, apalagi ketika sumber materialnya adalah genre baru bagi para stafnya sendiri, meskipun Madhouse sudah merilis berbagai anime psikologis dan misteri, serta sukses membangun reputasi sebagai studio dalam genre tersebut.


Sumber foto: PV Boogiepop wa Warawanai – KADOKAWA https://youtu.be/J9tu253SOas

Boogiepop wa Warawanai (2019) menceritakan dari awal kisah bagaimana urban legend Boogiepop dikenal sebagai dewa kematian yang otomatis muncul ketika keseimbangan dunia terancam oleh para ‘musuh dunia’. Boogiepop yang tidak memiliki tubuh fisik mengambil rupa dengan merasuki siswi SMA, Touka Miyashita, dan Touka pun akan tidak memiliki memori dan kendali apa pun ketika menjadi Boogiepop. Dimulai oleh arc pertama tentang kasus kematian beberapa siswa di Akademi Shinyo, di saat inilah diketahui manusia telah berkontak dengan makhluk supernatural dan sistem yang mengawasi dunia di mana Boogiepop menjalankan misinya.

Boogiepop wa Warawanai seperti yang saya kutip di atas, memang bukanlah jenis anime yang menghibur. Saya pun terkejut mengapa saya masih bisa menikmatinya. Di dunia di mana apa pun dapat terjadi, manusia ditantang untuk menentukan mana jalan yang benar, meski ‘benar’ sendiri adalah relatif. Ada berbagai sisi dalam manusia sendiri yang masih kita tidak ketahui, motif-motif yang tidak akan diterima oleh moral masyarakat, perasaan dan tindakan impulsif yang kita tidak ketahui akarnya. Manusia akan selalu ditantang untuk menggali sisi terkuburnya dan mengonfrontasi dirinya sendiri untuk berkompromi akan moral yang masyarakat miliki. Satu atau yang lain, manusia harus memilih sisi, menjadi manusia yang mengenali sendirinya sebagai makhluk yang berevolusi dan jujur akan dirinya sendiri, atau menjadi ‘musuh dunia’.


Sumber foto: Boogiepop wa Warawanai Episode 10

Boogiepop wa Warawanai lebih menceritakan bagaimana bertumbuhnya para karakter yang secara tidak langsung berkesinambungan ini, pelan-pelan mengarahkan penonton untuk mengumpulkan petunjuk-petunjuk dari tiap dialog dan adegan, dibungkus dengan klimaks yang akhirnya menyimpulkan sebab-akibat serta plot twist yang ada, dan bagaimana kasus tersebut menjadi pelajaran baru bagi para karakternya. Adegan-adegan yang mencekam juga berhasil memberi bumbu misteri dan menakutkannya entitas lain yang tidak manusiawi itu, berkat artwork yang cocok meski bukan taste saya, sang desainer karakter utama yang merupakan staf baru ini cukup berhasil dalam menciptakan desain yang realistis. Sebagai adaptasi light novel dengan banyak arc linear yang terpisah, para staf sukses merangkai narasi menjadi dapat dimengerti bagi penonton, meski memang membutuhkan fokus yang kuat.

Akan tetapi, Boogiepop wa Warawanai memiliki satu lubang yang vital. Sebagai anime rilisan 2019 yang diproduksi Madhouse, sang raja studio misteri dan psikologis, cukup aneh ketika saya menonton banyaknya karakter yang muncul, tetapi tidak satu pun yang membuat saya peduli dengan nasib mereka, selain eksistensi Boogiepop itu sendiri. Animasi pun terkesan dilakukan setengah hati, seperti hanya untuk menarik perhatian penonton dengan animasi PV yang lebih ‘berwarna’. Mengapa light novel senior ini terkesan biasa saja padahal pernah menjadi mahakarya pada masanya? Saat itulah saya sadar, apakah Boogiepop hanya menjadi sumber material dalam eksperimen Madhouse? Dengan deretan staf yang sangat menjanjikan, mudah bagi penonton untuk menanti-nanti kedatangan rilisnya, terutama ketika Madhouse yang memproduksinya! Video promosinya yang penuh aksi dan sinematografi yang dramatis sangat berbeda dengan anime yang sebenarnya semakin meyakinkan saya bahwa Boogiepop wa Warawanai hanyalah anime lain yang potensinya terbuang sia-sia. Jika memang rencananya Boogiepop wa Warawanai akan dirilis sebagai anime pure misteri psikologis dengan action yang minim, saya sarankan gunakan Studio Shaft saja sebagaimana mereka sukses dalam mengadaptasi novel Kizumonogatari menjadi trilogi film, atau mungkin ganti staf dengan yang lebih familiar pada genrenya.

Tidak saya ekspektasi nasibnya akan mirip seperti Tokyo Ghoul, di mana keduanya memiliki sumber material yang sangat dihargai kalangan penggemar, namun dengan pengarahan adaptasi yang berbeda, meskipun taste tiap penonton berbeda, kali ini saya berpikir seandainya Boogiepop bisa menjadi sesuatu yang lebih. Tidak hanya sebagai pengukir prestasi Madhouse yang sekali lagi mampu menaklukkan genre misteri psikologis, namun juga dalam memperkenalkan origin Boogiepop sebagai awal memuncaknya budaya light novel di Jepang itu sendiri.

Meskipun demikian, masih banyak juga kelebihan yang tidak bisa dilupakan dari produksi anime ini, seperti opening oleh MYTH & ROID, band yang naik daun mengisi lagu pembuka atau penutup anime isekai serta komposer musik yang belum lama baru masuk ke industri, Kensuke Ushio (Koe no Katachi, Devilman: Crybaby), namun sudah cukup dikenal karena reputasinya dalam memberikan kekhasan eksentriknya dalam EDM dan piano, seperti yang saya rasakan saat menonton PV dan anime Boogiepop itu sendiri. Namun, tepuk tangan paling kencang saya berikan bagi Aoi Yuuki, pengisi suara Boogiepop dan Touka yang sangat handal dalam meresapi perannya sebagai entitas nonbinary dan mampu menghidupkan sang Boogiepop yang sarkastik, tenang, namun juga sebagai ‘dewa kematian’ yang usil. Bahkan rasanya saya seperti mendengar Boogiepop berbicara sendiri dan tidak ada pengisi suara di studio! Sebagai skor akhir, saya berikan Boogiepop wa Warawanai solid 7/10.

Jadi, apakah anime ini patut direkomendasikan? Bagi yang ingin mengenal universe Boogiepop dan ingin pemanasan dalam genre misteri-thriller-psikologis, anime ini bisa menjadi pengantar sebelum membaca light novel-nya, di mana saya yakin merupakan media terbaik dalam menyampaikan cerita Boogiepop sampai saat ini. Anime lain yang cukup mirip dengan Boogiepop wa Warawanai (dan Boogiepop Phantom) adalah Serial Experiments Lain, Durarara!!, Baccano!, dan Jigoku Shoujo.

Selamat mencoba nonton dan terima kasih sudah mampir untuk review anime kali ini!

Sumber:

https://www.kaorinusantara.or.id/newsline/122964/kesan-pertama-anime-boogiepop-wa-warawanai-2019-seperti-bermain-puzzle

https://myanimelist.net/anime/37451/Boogiepop_wa_Warawanai_2019