02 November 2020

Buah Tangan dari Jerman 「ドイツ三部作」

Oleh: Resti Arista


Tiga karya awal Mori Ogai yang telah dibukukan dan diberi judul “Buah tangan dari Jerman”

Selain dikenal sebagai sastrawan, ia dikenal sebagai dokter pada dinas ketentaraan, dan bahkan pernah menduduki jabatan Kepala Korps Medis Angkatan Darat. Ia juga seorang kritikus sastra, sejarawan, penerjemah, dan pustakawan. Selain sebagai sastrawan, Mori Ōgai juga seorang birokrat. Beragamnya status yang melekat pada diri Ōgai inilah yang justru menjadikannya berbeda dengan sastrawan lain.

Tiga karya awal Mori Ōgai yang terdiri dari Maihime (Penari), Utakata no Ki (Catatan Buih di Atas Air), dan Fumizukai (Pengantar Surat) sering disebut Doitsu Sambusaku (Buah Tangan dari Jerman) karena ketiga karya yang merupakan cerpen tersebut banyak diilhami oleh pengalamannya selama tugas belajar di Jerman. Ketiga cerpen tersebut menceritakan percintaan anak muda yang dilukiskan dengan romantis, namun berakhir dengan kesedihan. Ketiga cerita pendek tersebut ditulis dengan latar belakang Jerman, dan berkaitan erat dengan pengalaman Ōgai sewaktu tugas belajar di negara tersebut.

Maihime ditulis dengan latar belakang Berlin, kota besar di bagian utara Jerman. Maihime menggambarkan cara hidup kaum remaja terpelajar yang sudah sadar akan pribadinya sebagai akibat dari pemikiran modern.

Kakute sannen bakari wa yume no gotoku ni tachishiga, toki kureba tsutsumite mo tsutsumigataki wa hito no kooshoo naruramu. Yo wa chichi no yuigon wo mamori, haha no oshie ni shitagai, hito no shindoo nari nado homuru ga ureshisa ni okotarazu manabishi toki yori.

Tiga tahun sudah berlalu seolah-olah mimpi, akan tetapi bagaimanapun juga nafsu manusia sulit sekali ditekan. Aku selalu mengingat nasihat ayah, dan mengikuti ajaran ibu, orang-orang di sekelilingku memuji bahwa aku adalah anak yang luar biasa pintar dan aku sangat senang atas pujian itu. Karena itu aku belajar dengan giat sampai sekarang.

Kanchoo no yoki hatarakite wo etari to hagemasu ga yorokobashisa ni tayumi naku tsutomeshi toki made, tada shodooteki, kikaiteki no jinbutsu ni narite mizu kara satorazarishi ga, ima nijuugosai ni narite.

Setelah bekerja, kepala kantor mengatakan bahwa aku adalah orang yang rajin dan aku senang atas pujian itu. Karena itu aku tidak pernah bolos, sampai-sampai aku melakukan pekerjaanku seolah-olah seperti mesin dan tidak memikirkan apakah yang kukerjakan itu benar atau tidak.

Sudeni hisashiku kono jiyuu naru, daigaku no kaze ni ataritareba niya. Kokoro no naka nani to naku odayaka narazu. Oku fukaku hisomitarishi makoto no ware ya, yooyoo omote ni arawarete, kinoo made no ware naranu ware wo semuru ni nitari.

Sekarang aku berumur 25 tahun. Walaupun berada di lingkungan universitas yang bebas, aku tidak merasa betah. Perasaan menyesal ini tidak bisa kupendam lagi, sehingga menyerang diriku.

Yo wa waga mi no ima no yooni yuuhi subeki seijika ni naru mo yoroshikarazu, mata yoku hooten wo soranjite goku wo danzuru hooritsuka ni naru nimo fusa washiikarazu wo satoritari to omoinu. (Maihime).

Kemudian aku menjadi politikus, tetapi aku merasa kedudukan ini tidak sesuai denganku, karena harus menyesuaikan diri dengan kehendak politik yang kurang memedulikan benar atau salahnya tindakan yang dilakukan. Hanya dirikulah yang mengetahui dengan jelas kekurangan-kekurangan dalam diri. Karena aku mengetahui seluk-beluk hukum yang menentukan kesalahan atau kebaikan seseorang, aku merasa tidak pantas menjadi seorang hakim.

(dikutip dari Maihime oleh Mori Ogai)