02 November 2020

Ceri

Oleh: Zulfikar B. Fuadi

Aku sering berpikir bahwa orang tua jauh lebih penting dari sang anak. “Demi masa depan anak-anak…” Kata mereka, seringkali aku mengingatkan diriku dengan pesan luhur yang mulia itu. Tetapi terpikiran hal seperti “Sebentar, orang tua seharusnya lebih lemah.” Setidaknya hal itu benar di lingkungan keluargaku. Walau bukan karena alasan seperti ingin diurus kembali dengan anaknya sendiri ketika sudah tua dan uzur, ini adalah orang tua yang setiap saat mencoba untuk menghibur anak-anaknya. Yah, aku bilang ‘anak-anak’, walau di rumahku mereka hanya balita. Anak paling tua berumur tujuh tahun, anak lelakinya empat tahun, dan anak perempuan termudanya baru berumur satu tahun.  Terlepas dari itu, ketiganya memiliki ayah dan ibu yang selalu menjaga mereka. Walau kalau dilihat lagi lebih mirip budak dari turunan orang tuanya sendiri.

Ketika aku di rumah, aku selalu mencoba untuk membuat candaan. Anggap saja seperti sedang mengenakan ‘topeng kegembiraan’ milik Dante untuk menyembunyikan dari hal-hal yang memicu rasa sedih. Sebenarnya, sih, bukan cuma di rumah saja. Jika aku berhadapan dengan orang lain, seberat apapun rasa sakit dan gundahku saat itu, aku mati-matian mencoba untuk membuat atmosfir yang menyenangkan. Setelah mengucap selamat tinggal kepada merekalah saat aku terhuyung memikirkan uang, keluarga dan kematian. Eh, malahan, sepertinya tidak hanya setiap aku bertemu orang-orang. Sama saja kasusnya ketika aku mencoba untuk menulis. Ketika aku kesal, aku mencoba untuk menulis, aku menulis topik-topik ringan yang menyenangkan untuk para pembaca. Niatku menulis itu didasarkan dengan keinginanku memuaskan para pembaca yang setia. Tapi ada orang yang tidak mengerti hal ini. “Si suami itu sekarang kok bercanda terus kerjaannya, ya.” Sambil menyengir. “Dia mencoba untuk mengumpulkan pembaca baru dengan tulisan jenakanya, ya, sepertinya dia tidak mencoba lebih keras untuk menulis sesuatu yang lebih dalam.”

Memangnya ada yang salah dengan menghibur orang? Sejak kapan selalu serius dan tidak pernah tersenyum menjadi hal yang begitu suci? Yang aku coba untuk katakan adalah ini: kesombongan, kepura-puraan dan seni untuk membuat orang menderita dengan mudahnya adalah hal yang tidak bisa aku tahan. Kalau aku menuruti kata Jung, yang aku sedang lakukan ini adalah membuat personaku terhadap orang-orang sekitar. Sudah tentu kalau aku, sebagai orang tua dan laki-laki dewasa, harus memerankan diriku sebagai orang yang bisa diandalkan dan mengakomodasi lawan bicaraku agar mereka merasa nyaman dan senang ketika presensiku ada. Aku tidak ingin bayang-bayangku menonjol dihadapan orang-orang ini, sudah tentu kalau aku, sebagai orang tua dan laki-laku dewasa, tidak boleh menunjukkan kelemahan dalam diriku sehingga membuat orang-orang sekitarku berpikiran aneh dan mulai mengkhawatirkanku.

Tiga orang anak. Sang suami benar-benar tidak berguna ketika membantu keseharian rumah tangganya. Dia bahkan tidak bisa melipat futonnya sendiri. Yang dia lakukan hanyalah membuat candaan bodoh. Mengatur stok makanan, urusan administrasi – dia tidak mengetahui apapun tentang itu. Seakan-akan dia hanya seorang penumpang dalam rumahnya sendiri. Dia suka kedatangan tamu, dia hibur tamunya, dan dia akan pergi ke ‘ruang kerja’ miliknya sambil membawa bekal, terkadang dia tidak akan pulang sampai seminggu. Dia terus mengatakan hal-hal yang harus dikerjakannya sebagai suami, namun dia tidak pernah membuat lebih dari dua atau tiga halaman perhari. Lalu, dia juga seorang pemabuk, dia selalu pulang dari minum-minum ditengah malam terlihat kurus kering, merangkak ke kasur, dan tertidur. Oh, dia juga sering kali memiliki teman wanita muda di berbagai bar yang dia sering kunjungi.

Anaknya yang paling tua berumur tujuh tahun, dan adik perempuannya yang lahir musim semi ini memiliki kecenderungan untuk sakit flu, tapi mereka tumbuh sehat dan normal. Tetapi, anak laki berumur empat tahunnya, masih terbilang sangat kurus dan belum bisa jalan sendiri. Dia tidak mengerti bahasa dan kata-kata ucapan orang tuanya; kata-kata yang anak itu utarakan hanya sekedar “Aaa” dan “Daaa”. Dia hanya bisa merangkak, tidak pernah andal saat latihan buang air. Dan rambutnya sangat tipis, padahal dia makan dengan banyak namun tidak pernah tumbuh atau bertambah berat badannya.

Sang ibu dan ayah tidak ingin membahas anak lakinya lebih jauh. Cacat bawaan, bisu tuli… mengatakan itu kepada anak ini rasanya akan terlalu pedih. Dari waktu ke waktu sang ibu memeluknya dengan erat sambil menunjukkan air mata. Sang ayah, dalam paroksim kekhawatiran, seringkali berpikiran untuk merebut genggaman anak ini dari ibunya dan menenggelamkan dirinya ke sungai terdekat. Dia seringkali berpikir, apakah yang dia alami ini merupakan definisi dari ‘duka’ dan ‘melankolis’ yang dikemukakan Freud. Tentunya, jika sang ayah kehilangan salah satu dari keluarganya, dia akan bersedih dan meratapi terhadap dirinya sendiri mengenai kehilangan seseorang yang dia cintai. Tetapi, bisa saja ketika kehilangan anak lelakinya yang cacat, perasaan sedih itu akan tercampur aduk dengan rasa lega dan senang karena tidak harus bertanggungjawab lagi untuk mengurus anak yang paling merepotkan dengan prospek masa depan yang paling suram dibanding anaknya yang lain. Bisa saja, sang ayah tidak mampu untuk melepaskan rasa dukanya karena kebingungan dari dirinya sendiri mengenai apa yang harus dirasakan ketika kehilangan anggota keluarga dan perasaan tersebut tercampur aduk. Sekedar bayangan saja, di satu sisi, dia tidak bisa bertemu anaknya untuk seumur hidup dan tidak akan sempat untuk melihat perubahan atau pertumbuhan yang akan dialami anaknya. Sang ayah tidak akan mengetahui apa anaknya yang cacat ini suatu saat akan sembuh dan tumbuh tinggi, dapat memarahi orang tuanya agar tidak menganggap dirinya satu derajat lebih rendah dari manusia normal, lalu meminta maaf kepadanya karena telah berpikiran untuk merebut kesempatan semua itu dengan menenggelamkan anaknya beserta dirinya sendiri ke sungai. “Puji tuhan, aku tidak akan melihat penderitaan yang anakku alami lagi! Sebentar, kok aku bisa berpikiran seperti itu sebagai orang tua? Yang benar saja.”

Aku tidak pernah menang dalam sebuah perbedaan pendapat, aku selalu kalah tanpa masalah. Aku benar-benar dikalahkan oleh kekuatan keyakinan lawan bicaraku dan ketegasan mereka yang sangat membuatku segan. Aku menjadi terdiam. Walaupun setelahnya aku berpikir lagi mengenai sudut pandang lawan bicaraku dan aku sadar bahwa aku tidak sepenuhnya salah. Namun karena telah kalah pendapat dari awal, prospek untuk membuka kembali perbedaan pendapat ini sedikit menyeramkan, karena berargumen juga meninggalkan rasa dengki yang tidak enak setiap kali aku mempertahankan opiniku, aku sekedar senyum dan terdiam saja sambil memikul rasa kesal, lalu aku menyalahkan diriku sendiri dan mencari pelampiasan dengan mabuk.

Mendengar sang istri mengeluh, sang suami tersinggung. Namun dia bukan orang yang senang berpendapat. Sekali lagi dia diam, berpikir: Kamu mungkin mengatakan hal itu untuk mengeluh, tapi bukan kamu saja yang sedang menahan tangis. Aku mengkhawatirkan anak-anak juga sepertimu. Keluarga dan rumahku sangat penting bagiku. Ketika salah satu anak kita mengeluarkan suara tangis di tengah malam, aku selalu terbangun dan kebingungan. Tidak ada tujuan lain yang lebih menyenangkan selain untuk membuat keluargaku bisa tinggal di rumah yang lebih baik dari ini, namun aku belum mampu saja. Aku melakukan semampuku, aku bukan ayah yang jahanam dan brutal terhadap anak-anakku. Aku tidak punya kelancangan untuk mengacuhkan istri dan anakku sehingga meninggalkan mereka. Dari buku-buku Freud yang aku baca, aku tahu jika seorang anak ditinggalkan oleh orang tuanya sebelum umur mereka beranjak sekitar sepuluh tahun, hal itu akan membuat trauma kepada sang anak. Aku tahu kok, bahwa yang aku lakukan ini bukan hal yang selalu benar untuk keluargaku, aku tidak memiliki siapapun untuk menuangkan rasa sedih dan khawatir ini, jadi aku memilih untuk diam saja. Walau aku tahu kalaupun aku diam saja, lama-lama aku akan mengungkapkan keputusasaan ini dengan cara yang agresif dan lebih tidak mengenakan dari seharusnya. Ya, yang aku lakukan, menyimpan rasa untuk menyerang dan memukul orang lain ke dalam diriku sendiri. Suatu saat aku akan meledak, tetapi selama masih aku bisa pendam, aku akan mencoba untuk tidak merepotkan orang lain dalam hal ini. Aku bukannya tidak tahu cara mengatur stok makanan atau urusan administrasi rumah, tapi aku tidak punya waktu untuk belajar hal-hal seperti itu.

Aku ingin kembali ke ‘ruang kerjaku’, iya, sekarang. Ada hal yang harus aku kerjakan, yah, sebenarnya, aku ingin pergi dari rasa suram di rumah ini juga. Ketika istriku bilang dia ingin menemui saudaranya hari ini, aku bilang kepadanya untuk menyewa pembantu dulu. Aku tahu saudaranya benar-benar sakit sekarang ini. Tetapi aku harus kembali bekerja. Aku seringkali berpikir orang tua lebih penting dari sang anak, karena kita lebih lemah dari mereka.

Di ‘ruang kerja’ itu aku disuguhi buah ceri.

Di rumahku, kita tidak memberikan anak-anak hidangan mahal seperti ini. Mungkin mereka belum pernah melihat buah ceri. Aku berpikir mereka pasti akan suka bentuknya yang cantik dan rasanya yang manis. Pasti kalau aku kembali ke rumah membawa ceri, mereka akan senang. Kalau aku kalungkan buah ceri ini dengan seuntai tali di leherku, akan mirip sebuah kalung cantik.

Tetapi, sang ayah tetap memakan ceri pelan-pelan dari piring yang besar untuk dirinya sendiri bagaikan obat yang pahit. Dimakan satu buah, lalu membuang bijinya, dimakan sebuah lagi dan membuang bijinya dengan hati yang berat dan mulut yang selalu menggerutu. Orang tua jauh lebih penting dari sang anak. Karena mereka lebih lemah dalam menghadapi apapun yang dilemparkan terhadap mereka dalam kehidupan. Anakku hanya akan merasa tidak nyaman dan kecewa ketika tidak ada makanan kesukaannya saat sarapan, tetapi sebagai orang tua, aku akan berpikir: Buku yang dibeli tetap tidak aku baca, janji yang diutarakan tidak kupenuhi, waktu yang diberikan tidak aku gunakan sebaik mungkin. Sekarang aku hanya bisa tenggelam dalam rasa malu sambil meneguk rasa pahitnya menjadi orang bodoh.