02 November 2020

TAKO: Layang-Layang Khas Jepang

Oleh: Firda Ramadhanti


(Sumber: Tensai)

Pernah mendengar kata “tako”? Pasti sudah tidak asing lagi dengan jajanan takoyaki, tetapi kali ini bukan membahas tentang takoyaki, melainkan “tako”. Tako diartikan sebagai layang-layang. Sedangkan takoage berarti layang-layang terbang. Di Jepang, menerbangkan layang-layang adalah salah satu kegiatan yang dilakukan setiap tahun baru. Sebelum video game ditemukan, layang-layang merupakan salah satu kegiatan yang sangat dinantikan oleh anak-anak selama tahun baru. Setelah ditemukan video game, popularitas bermain layang-layang menurun di kalangan anak-anak, namun layang-layang masih dijual di toko mainan dan toko serba ada sekitar bulan Desember. Menerbangkan layang-layang di awal tahun juga menjadi aktivitas favorit keluarga di Jepang. Meskipun menerbangkan layang-layang tidak begitu populer di seluruh dunia, hal ini cukup populer di Jepang. Selain di tahun baru, layang-layang biasanya dapat ditemukan pada saat festival budaya.

Layang-layang di Jepang kebanyakan dibuat dari kertas washi dengan kerangka tipis dari bambu atau kayu cemara, sumi (tinta hitam), dan menggunakan cat dari pewarna alami yang berwarna cerah. Kerangka bambu disebut tulang dan penutup kertas disebut kulit. Di Jepang, tako bukan sekadar layang-layang, melainkan menjadi karya seni dan budaya yang bernilai tinggi yang dilestarikan. Pemerintah Jepang bahkan memberikan tunjangan dan subsidi kepada para seniman layang-layang kemudian hasil karya seniman tersebut diabadikan di sebuah museun bernama Tako no Hakubutsukan di Tokyo. Di museum ini terdapat sekitar 3.500 koleksi layang-layang dari Jepang dan mancanegara, baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi.


(Sumber: Tensai)

Diperkirakan layang-layang pertama kali diperkenalkan dari Cina pada zaman Nara (649-794 M) dan digunakan dalam upacara keagamaan dan ucapan terima kasih. Saat ini layang-layang dipandang sebagai mainan untuk hiburan, namun pada awalnya di Cina digunakan untuk keperluan militer. Walaupun menyerap dari budaya Cina, tetapi orang Jepang mengembangkan desain dan tradisi layang-layang dengan ciri khas tersendiri. Tako digunakan sejak awal untuk tujuan praktis seperti dalam pembangunan banyak kuil di Jepang di mana layang-layang besar digunakan untuk mengangkat pekerja, ubin, dan bahan lainnya hingga ke puncak atap.


(Sumber: Kiteman)

Pada zaman Heian (794-1185 M), layang-layang sering digunakan sebagai alat komunikasi pembawa pesan rahasia di istana. Dikarenakan harus melewati parit-parit besar, maka layang-layang dinilai mampu menjalankan misi tersebut. Popularitas layang-layang terjadi pada zaman Edo (1603-1868 M), namun orang-orang hanya diperbolehkan menerbangkan layang-layang selama tahun baru oleh shogun Tokugawa. Layang-layang sangat populer pada saat itu sehingga orang-orang sering bermain layang-layang, bahkan ada pertempuran layang-layang. Namun, beberapa dari layang-layang ini justru malah menimpa bangsawan yang sedang melakukan perjalanan hingga akhirnya membuat mereka marah. Akibatnya, menerbangkan layang-layang hanya diperbolehkan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun ketika lalu lintas tidak terlalu padat.

Sebagian besar layang-layang Jepang yang indah dikenal dan dikembangkan pada periode Edo. Ada sekitar 130 jenis dan jenis layang-layang yang berbeda, masing-masing daerah memiliki bentuk yang unik. Mereka biasanya dihiasi dengan karakter dari cerita rakyat Jepang, mitologi, atau memiliki makna religius atau simbolik. Layang-layang Edo adalah salah satu layang-layang Jepang yang paling terkenal dan mengambil namanya dari periode Edo. Desainnya persegi panjang dan multi-kekang dengan lukisan rumit dan detail seperti gambar prajurit terkenal, aktor Kabuki, pendeta, dan geisha. Mayoritas dilukis dengan gaya Ukiyo-e.

Tako biasanya diterbangkan pada Hamamatsu Matsuri, hari libur umum, dan tahun baru. Di Hōnen Matsuri (Festival Panen), layang-layang diterbangkan dengan batang padi yang diikat sebagai persembahan simbolik rasa terima kasih atas panen yang baik. Festival layang-layang terbesar di Jepang ada di Hamamatsu yang terletak di Prefektur Shizuoka. Festival ini dirayakan dari tanggal 3 hingga 5 Mei setiap tahunnya untuk merayakan bayi yang baru lahir di kota tersebut dan berdoa untuk kesehatan dan masa depan cerah bagi bayi-bayi Hamamatsu. Menerbangkan layang-layang untuk setiap bayi yang lahir menjadi kebiasaan yang dikenal sebagai hatsudako. Bersamaan dengan Hari Anak, di festival ini para orang tua biasanya menuliskan nama anaknya pada tako. Konon semakin tinggi layang-layang yang bertuliskan nama anak tersebut terbang, maka nasib anak tersebut pun akan semakin baik juga.

Tidak seperti festival lainnya, Festival Hamamatsu tidak memiliki kaitan dengan kegiatan keagamaan. Festival ini biasanya diadakan di pantai. Selama festival berlangsung, orang-orang menerbangkan lebih dari seribu layang-layang untuk merayakan acara tersebut. Festival layang-layang tahunan di Hamamatsu terkenal dengan Takoage-Gassen.


(Sumber: YABAI)

Takoage-gassen adalah adu layang-layang di mana pemain menggabungkan beberapa strategi untuk menjadi pemenang pertempuran layang-layang. Tim yang terdiri dari 20 pemain bertarung satu sama lain di lapangan terbuka. Layang-layang yang diterbangkan bisa mencapai ukuran 25 kaki x 30 kaki.

Saat ini, menerbangkan layang-layang dipandang sebagai olahraga yang hebat di Jepang. Bahkan ada beberapa festival layang-layang yang diadakan penduduk setempat selama musim semi setiap tahunnya. Festival ini biasanya diadakan pada bulan April, Mei, dan Juni.

Bagaimana, tertarik dengan Tako? Kalau berkunjung ke Jepang, jangan lupa untuk melihat festival layang-layang khas Jepang ini! (F.R)

Sumber:

http://tensei-indonesia.com/layang-layang-khas-jepang

http://yabai.com/p/4289

http://www.kiteman.co.uk/JAPANESE%20HISTORY4.html