01 Maret 2021

Tentang Ikigai dan Tujuan Hidup

Oleh Rifqaiza Pravangesta

Sejauh saya hidup dan berkecimpung dalam dunia yang berbau Jepang, sering sekali saya menemukan kematian sebagai pelengkap kisah-kisah orang sana. Satu hari saya pernah dapat cerita dari sahabat saya, waktu itu dia sedang di kereta menuju kampusnya di Niiza. Harusnya durasi perjalanan kereta dari stasiun tempat ia berangkat ke Shiki (stasiun terdekat dari Niiza) hanya sekitar 30 menit, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba kereta berhenti. Ia bingung dengan apa yang terjadi sebelum terdengar pengumuman yang bilang bahwa perjalanan terganggu karena ada seseorang yang melompat ke arah kereta yang sedang melaju. Ya, ada yang bunuh diri dengan menabrakan dirinya ke kereta. Ia bilang hal itu maklum di Jepang, saya juga jadi mengiyakan karena beberapa minggu setelahnya ada teman mengunggah ke Instagram story tentang pengalaman yang sama.

Ada juga tentang lanjut usia yang meninggal kesepian di apartemen. NLI Research Institute sebagaimana yang dikutip Washington Post menyatakan bahwa setiap tahunnya ada sekitar 30.000 orang di Jepang yang meninggal kesepian. Sebenarnya fenomena ini sudah ada semenjak akhir abad 20, namun setiap tahunnya makin menunjukkan peningkatan. Mereka menyebutnya dengan 孤独氏 (kodokushi). Penyebab utamanya diduga adalah pergeseran bentuk keluarga di Jepang. Ketika mata kuliah Bunka Gairon, dosen saya menyampaikan kalau dulu keluarga terus mewarisi rumah yang telah ditinggali oleh beberapa generasi. Ketika satu keluarga mempunyai anak, biasanya anak sulung yang bertahan di rumah, mewarisi rumah tersebut, hingga turun temurun. Sekarang, Masaki Ichinose dari Center for Life and Death Studies, Universitas Tokyo, menyebut bahwa semakin banyak warga Jepang yang memilih hidup sendiri (tidak menikah). Kalaupun menikah, mereka memilih tidak punya anak, atau hanya punya sedikit anak. Dari sinilah tradisi keluarga tersebut mulai menghilang. Yang paling merasakan efek tersebut adalah para lanjut usia. Mereka rentan karena merasa sanggup dan tidak perlu dibantu orang lain. Mereka juga setelah pensiun dari pekerjaannya, kemungkinan besar kehilangan ikatan dengan orang-orang karena hubungan sehari-hari mereka adalah dengan kolega di tempat kerja. Belum ditambah jika pasangan mereka meninggal, atau bercerai.

Pengetahuan-pengetahuan di atas kebanyakan saya baca dua atau tiga tahun lalu, ketika saya riset tentang kecenderungan anak-anak muda di Jepang. Sekarang, hal-hal di atas rasanya jadi ironis karena setahun belakangan orang-orang mengenal self-help yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan. Saya pernah baca tentang stoicism, dan buku best seller yang ditulis Haenim Sunim (judulnya terlalu panjang), dua-duanya bicara tentang menjalani hidup yang kudu selow dan tidak perlu ribet-ribet. Kemudian soal Ikigai, tentang mencari tujuan hidup. Stoicism ditulis dari gagasan pemikir-pemikir Yunani. Haenim Sunim orang Korea, yang menganut Zen Buddhism. Sedangkan Ikigai dari Jepang, dan sudah ada sejak lama. Hector Garcia dan  Francesc Miralles dalam bukunya yang berjudul Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, mengatakan bahwa ikigai ini salah satu alasan kenapa orang-orang di Okinawa bisa hidup selama 100 tahun atau lebih. Ikigai dalam aksara asli ditulis 生き甲斐, dibelah menjadi 生きyang berarti hidup, kehidupan dan 甲斐 yang berarti layak, berharga. Secara kasar mungkin artinya “yang membuat hidup layak”.

Ketika pertama kali membaca buku tersebut, saya kaget. “Lha ini negaranya banyak bunuh dirinya tapi ada istilah khusus tentang tujuan hidup.” kira-kira saya berpikir begitu, sambil ketawa-ketawa tentu saja. Bagaimana tidak lucu, kan, rasanya jadi ironis. Tapi, mungkin orang-orang Jepang yang sudah kadung bunuh diri belum “menemukan” ikigai-nya. Kenapa menemukan? Karena bukunya, sih,bilang ikigai itu walaupun ada di dalam diri, harus dicari dan dibangkitkan. Hingga tahap ikigai menjadi alasan kita untuk bangun setiap paginya. Kurang lebih ikigai populer digambarkan dalam diagram Venn seperti ini.

Singkatnya, ikigai mencari titik tengah antara:

  1. Sesuatu yang saya suka,
  2. sesuatu yang saya baik di bidang tersebut,
  3. sesuatu yang menghasilkan duit bagi saya dan,
  4. sesuatu yang dibutuhkan oleh dunia.

Hector dan Francesc menjelaskan bahwa hal yang bisa saya dapatkan di tengah empat hal tersebut adalah ikigai saya, sesuatu yang bisa bikin saya semangat tiap hari buat bangun pagi. Misalnya ya, saya pecinta binatang kemudian saya memutuskan untuk menempuh pendidikan dokter hewan. Lalu saya menekuni beberapa tahun kuliah di kampus hingga pada akhirnya resmi menjadi dokter hewan, bahkan mungkin mendirikan klinik hewan. Setelah bekerja sebagai dokter hewan selama beberapa tahun, saya melihat PBB butuh dokter berdedikasi untuk merawat hewan-hewan yang terancam punah. Akhirnya saya pun melamar, menjalani berbagai macam seleksi dan diterima sebagai dokter di PBB dan berhasil menyelamatkan hewan-hewan tersebut..

Indah, kan? Indah betul. Saking indahnya menurut saya bahkan too good to be true. Pasti ada yang sampai ke tahap itu, tapi saya kira dari miliaran manusia… tidak begitu banyak. Lebih banyak yang berhenti di tahap pendaftaran kuliah karena tidak banyak kampus yang mempunyai prodi kedokteran hewan yang memadai. Lebih banyak lagi yang hanya sampai tahap bekerja, menjadi nyaman dan merasa tidak perlu untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi. Setidaknya bila melihat kasus yang terjadi di sekeliling saya, tidak banyak yang mencapai “syarat” ikigai di atas. Tapi, apakah hal itu membuat mereka tidak memiliki keinginan untuk hidup? Atau apakah mereka tidak menikmati hidup mereka? Tidak juga.

Banyak dari mereka yang merasa pekerjaan sehari-harinya begitu menyenangkan, walaupun hanya menulis berita-berita secara monoton setiap harinya. Banyak dari mereka yang merasa tetap kepingin hidup sekadar untuk bisa menyelesaikan novel yang belum berhasil ditulisnya. Banyak yang tiap pagi bangun, kepingin hidup karena masih bisa lihat orang tuanya. Menurut saya, syarat-syarat untuk mencapai ikigai tersebut masih terlalu utopis, walaupun sebenarnya masih banyak hal yang bisa diulik dan diambil dari ikigai ini. Namun, tetap dengan kondisi kehidupan sekarang, terlebih di Indonesia, dengan berbagai macam halangan, mewujudkan poin penting dari ikigai ini terbilang sulit. Cari pekerjaan buat isi perut saja, bagi beberapa orang susahnya setengah mati. Ada yang sudah berada di kantor mengurusi pajak dengan gaji luar biasa tapi sebenarnya ia lebih senang mengotak-atik komputernya di rumah dan sempat berpikir untuk membuka toko service tapi dilarang keras orang tuanya.

Saya yakin alasan masing-masing dari kita untuk hidup itu berbeda. Ada yang sudah menemukannya, lebih banyak yang belum. Alasan untuk hidup itu tidak cuma plek pakemnya itu saja, seperti yang dijabarkan ikigai. Memang, kalau punya duit, bisa mengubah dunia, bisa mengerjakan hal yang dicintai, pasti sudah lebih dari cukup buat jadi alasan hidup. Tapi, ya, alasan buat hidup tidak hanya itu. Alasan hidup tidak perlu karena punya duit banyak. Alasan hidup tidak perlu karena ingin mengubah dunia. Dengan hal-hal kecil yang bikin tersenyum: bau hujan, suara ketawa bayi, rahasia memalukan teman, cinta pertama, sawah yang panen, device yang tidak lag. Sekecil apapun itu, asal itu bisa bikin kita bersyukur telah diberkahi kehidupan; itu sudah cukup.

Referensi:

Garcia, Hector. Miralles, Francesc. 2016. Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life. Penguin Random House. New York.

https://management30.com/blog/redefining-purpose-with-ikigai/

https://www.nytimes.com/2017/11/30/world/asia/japan-lonely-deaths-the-end.html

https://www.washingtonpost.com/news/world/wp/2018/01/24/feature/so-many-japanese-people-die-alone-theres-a-whole-industry-devoted-to-cleaning-up-after-them/