29 Maret 2021

Saat Makan Malam, di Seberang Jauhnya Laut

Zulfikar B. Fuadi

Sesampainya di Bandara Sendai setelah menghabiskan lebih dari 17 jam waktu perjalanan melewati Incheon dan Chubu, aku tertatih-tatih layaknya bayi yang baru bisa berjalan di perjalanan menuju hotel yang telah dipesan oleh atasanku. “Besok sore langsung ke Fukushima, ya, nanti aku beritahu lagi secara daring.” Ujarnya sambil melihat jam tangan Rolex dan menelepon rekan kerjanya di kantor. Siapa yang mengira, aku yang cuma pegawai biasa ini bisa-bisanya dibawa bosku untuk menjadi penerjemah perjalanan sekaligus membantu asistennya dalam konfirmasi surat-surat perjanjian bisnis yang dia lakukan di Jepang. Alasan dia membawaku dan bukan pegawai lain yang lebih mencolok dan rajin hanya satu: aku mengerti bahasa yang tidak mereka pelajari waktu kuliah. Sertifikat kemampuan bahasaku skornya apa adanya, entah bosku dan rekan kerjaku percaya bahwa aku sudah menguasai bahasa Jepang. Aku jadi terbayang muka mereka yang penuh kekecewaan bila salah satu saja sadar bahwa kemampuan bahasa Jepangku biasa-biasa saja. Tapi bukan saatnya untuk berpikiran keras mengenai hal itu, saat ini aku diberikan tugas copywriting dan penerjemahan dokumen yang sangat banyak, padahal, kita belum sampai di Matsukawa untuk bertemu dengan klien dari Jepang untuk memberikan dokumen perjanjian mereka.

Malam hari tiba – aku lupa kalau aku belum makan apa-apa sesampainya di Sendai. Aku turun ke bawah untuk mencari makanan, namun karena masih merasa jet lag dan kesadaranku belum sepenuhnya pulih mengenai realita bahwa aku bukan di negara asal, aku jalan terhuyung menuju 7-Eleven di dekat sekolah khusus wanita Tokiwagi (常盤木学園高). Beberapa warga lokal memandangku aneh seakan aku sedang mabuk, atau mungkin rasa paranoidku sebagai orang luar saja yang kambuh. Di dalam 7-Eleven cabang Aoba itu, banyak makanan siap saji yang tinggal dihangatkan. Untuk orang yang biasa masak di rumah dan makan masakannya langsung ketika masih hangat, konsep frozen food terdengar aneh di kupingku. Namun, orang sini sudah sangat terbiasa dengan konsep ini: terlebih lagi, Jepang merupakan negara yang populer dengan budaya makanan siap saji dan otomatis. Di tahun 90an, para boomer selalu mengatakan paragon teknologi di Asia adalah negara Jepang. Yah, sekarang juga masih walau Cina dan Korea juga tidak kalah ngebutnya jika membicarakan teknologi yang mengedepankan kenyamanan dan efisiensi.

Onigiri dan Lemper.

Aku membeli seporsi onigiri, dalam satu porsi, ada tiga buah onigiri yang memiliki filling yang berbeda-beda. Selain onigiri, aku juga membeli root beer dan makanan kecil untuk menemani lemburku di hotel. Kasir menanyakan apakah aku ingin membayar cash, kredit, atau dengan kartu member. Aku memberikan kartu member yang diberikan oleh bosku untuk transaksi elektronik fasilitas umum, salah satunya bisa digunakan juga untuk berbelanja. Aku membawa makanan dan minumanku ke hotel dan kuletakkan di atas meja sebelah laptopku terpasang. Onigiri yang kubeli memiliki 3 isi yang berbeda: buah plum, telur ikan, dan salmon. Rasanya memiliki tingkat asin yang berbeda-beda. Buah plum rasanya sangat asam, namun ada rasa asin yang tersirat di lidahku ketika disatukan dengan nasi onigiri dan umami dari rumput laut kering yang digunakan sebagai handle sekaligus wrap nasinya. Sembari mengunyah onigiri berisi telur ikan, aku berpikir: cara mereka membungkus nasinya dengan nori secara sebagian ataupun seluruhnya mirip sekali dengan lemper. Bedanya, bahan untuk pembungkus nasi dalam lemper tidak biasa untuk dimakan, aku jarang mendengar orang makan daun pisang dari lemper, tapi bisa saja ternyata daunnya layak dikonsumsi.

Kedua makanan ini memiliki konsep yang sama, intinya, nasi/ketan dengan bumbu terentu (mirin, garam & cuka untuk onigiri, santan untuk lemper) diisi oleh berbagai macam lauk pauk, kebetulan, Indonesia dan Jepang memiliki sejarah teknik mengawetkan bahan makanan yang kaya, karena itu, lauk isi masakan ini sering kali bahan makanan yang diawetkan, entah itu buah plum yang disimpan berbulan-bulan sehingga rasa asamnya makin kuat, telur ikan yang dikeringkan sehingga teksturnya lebih padat, salmon yang diasap agar tidak cepat busuk, ayam yang dijadikan abon untuk meregangkan stok lauk-pauk rumah tangga, atau serundeng sebagai pengganti protein ketika tidak ada daging untuk dimasak.

Aku kembali mengerjakan tugasku di kamar, esoknya aku berjalan keluar untuk mencari angin dan makan siang bersama bos dan para rekan kerjanya yang ikut dalam business trip ini. Kami makan di restoran bergaya Eropa karena beberapa rekan kerjanya tidak biasa dengan makanan lokal. Aku tidak mengingat banyak mengenai yang satu ini selain harganya yang mahal dan interior restorannya yang terlihat dilebih-lebihkan. Datang sore hari, kami menggunakan Shinkansen dari Sendai menuju Fukushima. Sesampainya di Fukushima, kami bertemu dengan pihak klien orang Jepang dan mulai membahas mengenai perjanjian yang akan disahkan oleh bos. Aku sendiri tidak terlalu peduli apa yang menjadi esensi dari pertemuan ini. Toh, uangnya juga untuk bos dan perusahaannya. Sebagian dari kami sadar bahwa kegunaan kami di sini sekedar menemani atau membuat ramai pertemuan saja agar perusahaan terlihat lebih solid. Salah satu rekan bos yang merupakan orang Jepang menawarkanku sake sebagai oleh-oleh ke Indonesia, aku tidak bisa menolaknya. Mungkin akan aku coba setelah nanti kembali, tentu saja aku tidak akan bilang keluargaku. Sebenarnya, aku bukan penggemar berat minuman alkohol yang mahal.

Rapat berlangsung selama kurang lebih 2 jam, berikut dengan presentasi dari pihak klien dan pihak perusahaan. Setelahnya, kami memutuskan untuk menjamu para klien dengan makan siang, awalnya, kami ingin ke restoran, namun karena waktu yang mepet dan budaya kerja yang sangat kental di sana, klien kami menyarankan untuk memesan makanan dari luar saja. Akhirnya, pihak perusahaan memesan kabayaki untuk makan siang. Ketika makan, kami keluar terlebih dahulu dari ruang rapat ke ruang tunggu di kantor. Semua pegawai dan klien kurang lebih mendapatkan paket makanan yang sama: mungkin pihak klien dipilihkan paket yang lebih mahal dari kami sebagai rasa sonkei kepada pihak luar. Namun intinya, kami semua makan kabayaki.

Selesai rapat pada sore hari, aku diberikan tugas lembur oleh bos bersama asistennya, aku yang membenarkan terjemahan bahasa Jepang ke Indonesia atau Inggris, asistennya memverifikasi isi dan kata-kata dalam dokumen perjanjian tersebut agar tidak ada celah legal yang dapat dijadikan tuntutan, serta kebenaran perjanjian dalam dokumen betul-betul tercantum. Kami berdua selesai sekitar jam 10 malam.

Setelah berpamitan dengan asisten bos, aku memiliki jam kosong yang bisa aku gunakan untuk istirahat, memang, masih ada beberapa hari lagi urusan rapat, menerjemah dan menemani bos, namun jam-jam kosong ini justru aku tidak terpikirkan mau melakukan apa. Kalian pasti mengerti perasaan ini: ketika aku memiliki banyak aktifitas atau tuntutan dari urusan kelompok atau kolektif, aku merasa terikat penuh dalam aktifitas tersebut, aku tidak sempat memikirkan ketika istirahat akan melakukan apa, tapi, inilah yang sekarang terjadi. Tanpa berpikir banyak, aku mampir ke restoran kecil sekitar hotel. Aku masih penasaran mengenai kabayaki yang baru aku makan tadi siang. Jadi aku memesan kembali apa yang telah kumakan pada siang hari.

Kabayaki dan Pecel Lele.

Kabayaki adalah belut bakar. Secara literal, hampir semua makanan Jepang yang diakhiri dengan –yaki mengalami proses dimasak terlebih dahulu. Belut yang aku makan adalah anago, salah satu tipe belut air tawar yang jadi lauk pokok di Jepang. Aku tidak berani memesan macam-macam, jadi aku mencoba kabayaki yang paling murah. Aku bilang murah, tapi harganya sekitar ¥2500. Aku akan cerita lebih lanjut mengenai harga.

Hidangannya cukup sederhana, aku diberikan seporsi nasi dengan semacam saus kecap yang rasanya manis dan gurih, di atasnya ditumpuk belut yang sudah dibakar dan dilapisi dengan saus yang sama dan dihidangkan dalam unajuu. Ketika melahapnya dengan sumpit, tekstur nasi yang biasanya dianggap empuk dan ‘polen’ kalah dengan kelembutan daging belut yang dibakar oleh koki restoran ini. Aku tahu bahwa orang akan menaikkan alis mata di satu sisi ketika aku akan mengutarakan daging belutnya seakan-akan meleleh di mulut. Tapi bagaimana lagi, aku belum mengunyah pun, suapan daging belutnya sudah melebur di sekitaran lidah dan memancarkan rasa manis-gurih. Hidangan yang aku makan cukup mengingatkanku akan pecel lele. Waktu masa kuliah, aku tidak memiliki banyak uang untuk dihabiskan dalam bentuk makanan enak seperti ini – hampir seluruh bulananku terpakai untuk makanan, transportasi, dan uang untuk perkuliahan. Di negara asal, aku teringat soal kedai pecel lele di tempat langgananku. Rasa, harga dan atmosfir yang aku dapat ketika makan di sana benar-benar berbeda. Tapi kenapa perasaan nikmat ketika menyantap hidangannya membuatku terpikirkan ke sana? Kalau dipikir baik-baik, di Jepang, para kokinya berlatih bertahun-tahun membuat hidangan yang sama dengan resep generasi turun temurun. Karena pengaruh media juga, aku terbawa arus dengan anggapan semua koki Jepang memiliki pengalaman 10 tahun lebih untuk memasak satu macam hidangan. Tentu saja, ada benar dan salahnya.

Ikan lele dan belut memiliki banyak persamaan mulai dari bentuk yang relatif panjang, tekstur dan rasa daging putih yang rasanya mild jika dimakan begitu saja, namun, ketika ditambahkan semacam saus, maka rasanya akan berbeda jauh. Di warung pecel lele langgananku, akangnya sekedar menggoreng lelenya dan menghidangkan dengan nasi bersama sambal pecel. Perbedaannya mungkin di sini: saus kecap kabayaki sering kali menjadi bumbu andalan hidangannya yang membedakan kualitas restoran A dan B. Sedangkan pecel lele sering aku nilai dari sambalnya. Aku tidak begitu tahan pedas, jadi tidak banyak sambal pecel yang aku anggap enak. Beruntungnya, sambal yang dihidangkan di kedai pecel lele langgananku, sangat enak, mereka menambah banyak tomat dan memakai gula sehingga sambal yang biasanya sangat pedas, rasanya sedikit asam dan manis. Teksturnya juga berubah menjadi semacam paste sehingga bisa aku selimuti nasinya dengan sambal itu.

Mengenai harga, ketika kabayaki dianggap sebagai makanan mewah bahkan di negaranya sendiri, aku belum pernah menemukan restoran pecel lele yang menawarkan harga premium untuk hidangannya. Dan aku rasa lebih baik begitu: pecel lele adalah simbol lauk kesederhanaan yang bisa disantap oleh semua kalangan masyarakat tanpa harus gengsi dan mengeluarkan uang banyak. Aku tidak ingin ada restoran pecel lele yang mempromosikan masakkannya sebagai ‘bumbu warisan turun temurun selama X generasi’ di slogan depannya, dan memasang harga yang keterlaluan. Aku berpikiran semua penjual pecel lele di Indonesia memiliki resep unik yang sudah turun-temurun dan berlangsung selama beberapa generasi. Kalau orang Jepang ingin kabayaki menjadi hidangan mewah, itu keputusan mereka, mungkin dari situ orang baru bisa mengapresiasi kerja keras dan ketekunan kokinya dari membuat satu hidangan terus menerus selama bertahun-tahun.

Aku terbangun di pagi hari dengan rasa kantuk yang luar biasa. Perutku yang belum biasa dengan wasabi seakan-akan memintaku untuk menyerah ketika aku mendengar bahwa siang hari nanti, bos dan kliennya akan berbincang santai di restoran sushi. Tapi demi menjaga muka dan menopang solidaritas, aku tetap ikut dan makan. Tentu saja, menghabiskan wasabi yang dihidangkan dalam piring untuk menjaga imageku sebagai karyawan yang tidak membuang-buang makanan. Setelah dari restoran sushi, bos memandangku dengan muka bingung, “Padahal, gak usah kamu makan semua, aku tahu kamu malu di depan orang Jepang kalau tidak menghabiskan makanannya, tapi jujur saja, tidak ada yang peduli. Mereka lebih peduli soal kartu kredit siapa yang akan dipakai untuk membayar perjamuan tadi.” Aku hanya membalas dengan senyum memaksa, bos memang memiliki daya tariknya sendiri, namun sifatnya juga kadang terlalu transparan sehingga orang-orang takut untuk melakukan kesalahan di depannya. Oh ya, bosku ini seorang wanita, lho. Mungkin ada nilai tambahan dengan menjadi wanita di pangkat tinggi dalam hierarki perkantoran yang tidak kenal ampun.

Hari ini tidak sesibuk beberapa hari pertama, kami semua tahu bahwa surat perjanjian dari klien dan dari rapat berkali-kali kemarin, urusan ini akan berjalan lancar, entah seberapa lancar bagi pihak perusahaan, namun aku bisa merasakan para klien dalam sentimen yang puas dan kooperatif. Tinggal sehari lagi sebelum aku harus kembali ke Indonesia. Rekan kerjaku mengajak untuk menghabiskan waktu ke izakaya terdekat dan mungkin berkenalan dengan wanita setempat, namun aku menolaknya dengan alasan worn-out dari pekerjaan kemarin.

Di malam terakhirku di Fukushima, aku mampir ke kedai ramen Misoichi (みそ壱) dekat daerah Atagomae. Aku memesan shoyu ramen dengan kuah kaldu sapi dan daging ayam.

Ramen dan Soto.

Temanku sering bercanda, “Untuk apa makan ramen segala, sih? Tinggal beli mie instan dan kasih lauknya sendiri harus mahal-mahal makan mie, gak beda jauh.” Sayangnya, candaannya mempengaruhi penilaianku terhadap ramen sampai sekarang. Gara-gara dia sering bicara seperti itu, aku jadi sulit untuk mengapresiasi hidangan mie di depanku. Memang, secara kasar mirip dengan mie instan, tapi proses pembuatan ramen memiliki keunikan tersendiri di mana bumbu instan mie buatan pabrik tidak akan pernah bisa mengikutinya.

Baiklah, kalau gitu, jangan samakan dari bahan-bahannya, tapi dari konsepnya. Ramen memiliki komponen penting untuk bisa dibilang hidangan bernama ramen. Aku perhatikan, komponen itu adalah sup, lalu karbohidrat, lauk protein, dan garnish atau bahan tambahan untuk membuat menarik hidangan. Aku teringat oleh hidangan yang terdapat di seluruh Indonesia juga: Soto.

Ada lebih dari tiga puluh ribu varian ramen di Jepang, aku yakin, di Indonesia juga ada segitu banyaknya varian soto. Aku baru mengenal macam-macam soto khas daerah setelah beranjak SMA, mungkin terhitung telat, dulu biasanya aku hanya makan soto Lamongan yang memiliki kuah khas dengan bubuk koya yang banyak. Ternyata soto tidak hanya itu saja. Sama dengan ramen, berbeda distrik saja, tipenya bisa jauh berbeda. Dari ala Roppongi, Ginza, bahkan aku baru tahu di Kanazawa mereka memiliki ramen khas daerahnya sendiri. Aku mengira kota itu spesial dengan Jibuninya saja. Rasa dari kuah hangat dan mie yang terpadu membuatku merasa nyaman di saat tempratur udara tidak bersahabat. Aku harus mengakui, makan makanan yang berkuah adalah sesuatu yang baru aku bisa apresiasi sekarang, karena udara di kota asalku selalu panas, makan makanan berkuah rasanya tidak pernah menjadi kesempatan yang pas. Hal yang sering aku lakukan ketika makan makanan berkuah adalah menyisakan lauknya terakhir, bukan karena aku tidak suka lauk dalam rebusan kuah, justru aku ingin itu dinikmati terakhir. Konsep ramen dan soto adalah salah satu cara untuk meregangkan stok makanan bagi orang zaman dahulu. Sekarang, hampir tidak ada yang namanya kekurangan bahan makanan bagi seseorang dengan gaji yang stabil di masa modern ini. Namun dahulu kala, aku yakin lauknya tidak akan sebanyak ini. Menyampur men (mie) dan kuah membuat perut lebih gampang kenyang. Sama dengan soto yang sering dicampur nasi. Dari situ juga aku belajar pepatah “Kalau belum makan nasi, rasanya tidak seperti makan apapun”.

Setelah menghabiskan hidangan di Misoichi, aku tidak berpikir banyak selain keinginan untuk bersiap-siap membereskan barang di hotel untuk keberangkatan esok hari.

Setelah tiba di Indonesia, mereka mengadakan briefing di salah satu kafe yang ada di bandara. Lalu para pegawai dan rekan-rekan kerja mulai berpisah satu persatu setelah bersalaman. Setelah sampai, pegawai itu terdiam di rumah dengan amplop uang muka dari atasannya, tidak ada suara tawa dari lantai dua ketika seseorang terbahak-bahak melihat konten lucu dari internet maupun suara  pembawa acara TV yang tidak begitu jelas dari lantai satu, suara itu telah hilang sejak setahun lalu. Begitu juga bagian dapur yang biasanya dipenuhi dengan bumbu masak dan tampungan minyak yang sudah dipakai berkali-kali. Di rumah yang sebenarnya muat untuk satu keluarga besar ini, dia tinggal sendiri. Wajahnya yang biasanya tidak dapat ditebak karena terbiasa memasang muka di kantor terlihat lelah. Semua ocehannya mengenai makanan ketika di Jepang hanya sekedar luapan perasaannya mengenai hal yang dia sukai.

Nada dering HP berbunyi – Temannya mengajak untuk pergi ke restoran terbaru di daerah pusat kota untuk makan malam. Restoran itu adalah restoran Jepang yang menyediakan hidangan sushi dengan metode omakase. Dia berpikir sesaat sebelum membalas: “Bagaimana kalau malam ini kalian ke rumahku saja? Aku baru belajar cara bikin sushi di Fukushima. Aku tahu tidak akan seenak buatan koki di restoran pusat kota, tapi aku sudah berkali-kali menonton video memasak. Mungkin kalau mau, bisa ikut juga sekalian membeli bahan-bahannya.”